• Tue, Jul 14, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

14 July 2026 16:00  |

Hormuz Bergejolak, Minyak Tembus US$86

Harga minyak naik tajam pada perdagangan Selasa (14/7) dan menyentuh level tertinggi dalam empat pekan. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, sementara serangan baru antara Washington dan Teheran meningkatkan kekhawatiran terhadap arus energi melalui Selat Hormuz.

Brent crude naik US$2,74 atau 3,29% ke level US$86,04 per barel pada pukul 07.51 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat US$2,21 atau 2,83% ke level US$80,35 per barel. Brent kini berada di level tertinggi sejak 12 Juni, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 16 Juni.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman Iran dan mengusulkan biaya 20% untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan harian minyak dan gas alam cair global melintas melalui kawasan tersebut.

Situasi semakin panas setelah dua tanker Uni Emirat Arab dilaporkan terkena rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di perairan Oman. Insiden tersebut menewaskan satu awak asal India dan melukai delapan orang lainnya. Data pelayaran juga menunjukkan jumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam dua bulan.

Citi memperingatkan bahwa peluang Iran meninggalkan memorandum of understanding dengan Amerika Serikat hingga setelah pemilu sela AS semakin meningkat. Jika skenario ini terjadi, harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Meski begitu, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan ekspor minyak Iran masih berjalan seperti biasa, meskipun AS telah membatalkan keringanan sanksi minyak selama 60 hari.

Risiko dari kawasan Timur Tengah juga bertambah setelah kelompok Houthi Yaman menembakkan rudal ke Arab Saudi. Di sisi lain, impor minyak mentah China pada Juni turun tajam 41,3% ke level terendah hampir satu dekade akibat lemahnya permintaan domestik dan pembatasan ekspor produk olahan. Dampaknya ke market, minyak masih berpotensi volatil karena pasar harus menimbang dua sisi sekaligus: risiko pasokan dari Hormuz dan pelemahan permintaan dari China. (arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai