Hormuz Bergejolak, Minyak Tembus US$86
Harga minyak naik tajam pada perdagangan Selasa (14/7) dan menyentuh level tertinggi dalam empat pekan. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, sementara serangan baru antara Washington dan Teheran meningkatkan kekhawatiran terhadap arus energi melalui Selat Hormuz.
Brent crude naik US$2,74 atau 3,29% ke level US$86,04 per barel pada pukul 07.51 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat US$2,21 atau 2,83% ke level US$80,35 per barel. Brent kini berada di level tertinggi sejak 12 Juni, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 16 Juni.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman Iran dan mengusulkan biaya 20% untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan harian minyak dan gas alam cair global melintas melalui kawasan tersebut.
Situasi semakin panas setelah dua tanker Uni Emirat Arab dilaporkan terkena rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di perairan Oman. Insiden tersebut menewaskan satu awak asal India dan melukai delapan orang lainnya. Data pelayaran juga menunjukkan jumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam dua bulan.
Citi memperingatkan bahwa peluang Iran meninggalkan memorandum of understanding dengan Amerika Serikat hingga setelah pemilu sela AS semakin meningkat. Jika skenario ini terjadi, harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Meski begitu, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan ekspor minyak Iran masih berjalan seperti biasa, meskipun AS telah membatalkan keringanan sanksi minyak selama 60 hari.
Risiko dari kawasan Timur Tengah juga bertambah setelah kelompok Houthi Yaman menembakkan rudal ke Arab Saudi. Di sisi lain, impor minyak mentah China pada Juni turun tajam 41,3% ke level terendah hampir satu dekade akibat lemahnya permintaan domestik dan pembatasan ekspor produk olahan. Dampaknya ke market, minyak masih berpotensi volatil karena pasar harus menimbang dua sisi sekaligus: risiko pasokan dari Hormuz dan pelemahan permintaan dari China. (arl)
Sumber : Newsmaker.id