Emas Rebound, CPI Jadi Ujian Besar
Harga emas mulai pulih pada perdagangan Eropa hari Selasa (14/7) setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan. Kenaikan ini terjadi karena sebagian investor mulai melakukan bargain hunting setelah emas anjlok tajam pada sesi sebelumnya.
Pada pukul 05.58 ET atau 09.58 GMT, XAU/USD naik 0,5% ke level US$4.021,87 per troy ounce. Kontrak berjangka emas juga menguat 0,55% ke US$4.027,22. Perak naik 0,78% ke US$58,10, sementara platinum bertambah 0,34% ke US$1.609,82.
Pemulihan emas terjadi setelah pada Senin harga sempat jatuh hampir 3%, penurunan harian terdalam dalam lebih dari satu bulan. Bahkan, emas sempat turun ke bawah level psikologis US$4.000 untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir.
Tekanan sebelumnya muncul dari meningkatnya konflik Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman Iran di kawasan Teluk dan menyebut Washington sebagai “Guardian of the Hormuz Strait”. Ia juga mengusulkan biaya 20% untuk kargo yang melintas di jalur strategis tersebut.
Kenaikan harga minyak akibat risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran inflasi. Bagi emas, situasinya menjadi dua sisi. Inflasi tinggi bisa membuat emas menarik sebagai lindung nilai, tetapi jika inflasi mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga, dolar dan imbal hasil obligasi bisa menguat dan kembali menekan emas.
Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi konsumen AS bulan Juni dan testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres. Komentar hawkish dari Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya sudah membuat peluang kenaikan suku bunga Juli naik ke sekitar 43%. Jika CPI lebih panas dari perkiraan atau Warsh terdengar hawkish, emas bisa kembali tertekan meski saat ini mulai mencoba bertahan di atas US$4.000. (arl)
Sumber : Newsmaker.id