Inflasi Mendingin, Emas Terbang di Atas US$4.100
Harga emas melonjak tajam setelah data inflasi Amerika Serikat keluar lebih rendah dari perkiraan. Data CPI yang lebih dingin meredakan kekhawatiran bahwa The Fed perlu segera menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.
Emas sempat naik hingga 2,5% dan kembali bergerak di atas level US$4.100 per troy ounce. Kenaikan ini terjadi setelah data menunjukkan harga konsumen AS turun 0,4% pada Juni, berbalik dari kenaikan 0,5% pada Mei.
Sentimen emas semakin kuat karena dolar AS melemah. Indeks dolar Bloomberg turun 0,5%, sementara imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun turun 10 basis poin. Penurunan yield dan dolar membuat emas lebih menarik bagi investor.
Data inflasi yang lebih rendah membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat ikut menurun. Kondisi ini menjadi angin segar bagi emas, terutama setelah sehari sebelumnya harga sempat turun 2,9% akibat kekhawatiran konflik AS-Iran dapat mendorong harga energi dan inflasi.
Menurut analis komoditas ING, Ewa Manthey, emas menyambut positif data CPI yang lebih lemah. Turunnya yield dan melemahnya dolar kembali memberi dukungan bagi logam mulia, sementara pasar mulai melihat peluang bahwa The Fed bisa kembali ke jalur pelonggaran kebijakan.
Dampaknya ke market, emas berpotensi melanjutkan penguatan selama dolar dan yield tetap turun. Namun, investor masih perlu mencermati perkembangan konflik Timur Tengah dan harga minyak, karena lonjakan energi tetap bisa menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id