Inflasi Turun, Dolar Kehilangan Tenaga
Dolar Amerika Serikat melemah tajam setelah data inflasi AS bulan Juni keluar lebih rendah dari perkiraan. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,6% ke level terendah harian pada Selasa (14/07), setelah sebelumnya sempat menguat 0,3% pada perdagangan Senin.
Tekanan terhadap dolar muncul karena data CPI menunjukkan harga konsumen AS turun 0,4% secara bulanan, penurunan pertama sejak tahun 2020. Sementara itu, CPI inti tercatat tidak berubah secara bulanan. Data ini membuat pasar menurunkan ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini.
Imbal hasil Treasury AS juga ikut turun. Yield tenor dua tahun melemah 10 basis poin menjadi 4,19%, karena trader mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Fokus pasar kini beralih ke kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di Kongres pada Selasa dan Rabu.
Di sisi lain, perhatian investor masih tertuju pada runtuhnya gencatan AS-Iran dan ketegangan pengiriman di Selat Hormuz. Harga Brent kembali naik untuk hari kedua dan menembus US$87 per barel, sehingga risiko inflasi energi belum sepenuhnya hilang meski data CPI AS kali ini lebih lemah.
Di pasar mata uang G-10, dolar Selandia Baru menjadi penguat terbesar. NZD/USD melonjak 1,6% ke 0,5841, level tertinggi sejak 16 Juni, setelah pejabat Reserve Bank of New Zealand memberi sinyal bahwa inflasi mungkin tidak turun dari perkiraan. EUR/USD naik 0,6% ke 1,1454, GBP/USD menguat 0,6% ke 1,3429, sementara USD/CHF turun hingga 1% ke 0,8065.
Dampaknya terhadap pasar, data CPI yang lebih dingin memberi tekanan pada dolar dan mendukung mata uang utama lainnya. Namun, pasar belum sepenuhnya tenang karena harga minyak masih tinggi akibat konflik Hormuz. Jika minyak terus naik, kekhawatiran inflasi bisa kembali muncul dan membatasi pelemahan dolar lebih lanjut. (arl)
Sumber: Newsmaker.id