AS Gempur Iran, Ketegangan Hormuz Meningkat
Amerika Serikat kembali melancarkan gelombang serangan militer terhadap Iran pada Rabu (15/07) pagi. Serangan ini menargetkan kemampuan militer Iran yang disebut digunakan untuk menyerang kapal komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Menurut U.S. Central Command atau CENTCOM, serangan dimulai pukul 06.00 waktu ET. Langkah ini dilakukan beberapa jam setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa aksi militer akan terus meningkat jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan damai.
Trump mengatakan pemerintahannya telah melakukan kontak dengan pejabat Iran pada Selasa. Namun, ia menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut sampai ada kesepakatan. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan mengatakan Iran harus segera membuat kesepakatan sebelum kehilangan lebih banyak aset strategis.
Ketegangan juga meningkat setelah Trump membuka kemungkinan serangan lanjutan terhadap infrastruktur nuklir Iran, termasuk Pickaxe Mountain. Saat ditanya soal Kharg Island, Trump mengatakan target energi akan disimpan untuk tahap terakhir, tetapi tetap bisa diserang jika situasi terus memburuk.
Di saat yang sama, CENTCOM kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran. Trump sebelumnya menyatakan Selat Hormuz akan tetap terbuka untuk semua lalu lintas kapal, kecuali kapal yang terkait dengan Iran. Namun, Teheran membantah klaim tersebut dan tetap melanjutkan serangan terhadap kapal komersial di sekitar Hormuz.
Dampaknya ke market, eskalasi ini bisa menjaga harga minyak tetap tinggi karena risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz makin besar. Jika konflik terus melebar dan menyeret infrastruktur energi, tekanan inflasi global bisa kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi mendukung dolar sebagai safe haven, menekan aset berisiko, dan membuat emas tetap bergerak volatile. (arl)
Sumber: Newsmaker. id