Harga Minyak Melonjak, Hormuz Jadi Ancaman Pasokan
Harga minyak bertahan di zona penguatan tajam pada perdagangan Eropa hari Senin (13/7), meskipun sempat memangkas lonjakan awal yang hampir menyentuh 5%. Kenaikan ini dipicu oleh kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat pasar khawatir terhadap gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Pada pukul 03.43 ET atau 07.43 GMT, Brent naik 3,5% ke level US$78,68 per barel. Sementara itu, WTI juga menguat 3,5% ke US$73,89 per barel, setelah keduanya sempat melesat hampir 5% pada awal sesi.
Reli harga minyak terjadi setelah Iran memperluas serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat. Ketegangan semakin meningkat setelah Teheran menyatakan Selat Hormuz ditutup usai sebuah kapal komersial dilaporkan terkena serangan.
Amerika Serikat membantah klaim Iran tersebut. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz tetap terbuka di bawah perlindungan AS. Namun, operator kapal tetap memilih berhati-hati. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada hari Minggu, level terendah dalam lima pekan terakhir.
Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan produsen Teluk lainnya. Jika gangguan berlangsung lebih lama, kilang-kilang minyak, terutama di Asia, bisa terpaksa mencari pasokan alternatif. Kondisi ini berpotensi mendorong biaya pengiriman dan asuransi menjadi lebih mahal.
Pelaku pasar kini juga menunggu kemungkinan respons dari negara-negara produsen minyak besar, termasuk potensi pelepasan cadangan minyak strategis jika gangguan pasokan semakin memburuk. Sebelumnya, International Energy Agency atau IEA memperingatkan bahwa konflik baru AS-Iran dapat mengganggu pemulihan pasokan minyak global apabila hambatan pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi selama ketidakpastian Hormuz belum mereda. Kenaikan minyak bisa memicu kekhawatiran inflasi, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, dan menekan aset berisiko. Di sisi lain, sektor energi berpeluang mendapat dukungan, sementara emas dan dolar AS bisa tetap bergerak volatil mengikuti perkembangan geopolitik.(arl)
Sumber: Newsmaker.id