WTI dan Brent Bergerak Liar, Investor Cermati Respons Iran
Volatilitas harga minyak menjadi ancaman utama bagi minat investor terhadap aset berisiko. Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran membuat pergerakan minyak semakin tidak stabil, meskipun harga minyak yang masih berada di kisaran US$70-an belum dianggap cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan bank sentral secara drastis.
Serangan AS terhadap Iran dan pencabutan izin pelonggaran sanksi untuk minyak Iran sempat mendorong WTI naik hingga US$75 per barel, sementara Brent menembus US$79 per barel. Namun, kedua harga acuan tersebut kemudian memangkas sebagian kenaikan dari level tertinggi sesi.
Pasar tampaknya masih cukup tenang dalam merespons pernyataan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan berakhirnya gencatan senjata. Namun, pertanyaan utama bagi investor adalah apakah eskalasi terbaru ini akan kembali memicu guncangan pasokan minyak, atau hanya menciptakan volatilitas sementara yang dipicu oleh sentimen berita.
Harga minyak yang lebih tinggi memang dapat mendorong ekspektasi inflasi dan memengaruhi perkiraan suku bunga. Namun, selama minyak masih berada di kisaran US$70-an, pasar menilai kondisi tersebut belum cukup untuk memaksa bank sentral kembali memberi sinyal pengetatan kebijakan moneter.
Dari sisi market analis, posisi pasar juga ikut berperan dalam lonjakan harga minyak. Posisi jual yang terlalu besar muncul ketika indikator RSI menunjukkan kondisi oversold, sehingga sebagian kenaikan terjadi karena trader menutup posisi short. Meski begitu, kenaikan volatilitas minyak tetap membuat rentang pergerakan harga semakin lebar.
Kondisi ini berpotensi memicu pergerakan yang lebih besar pada pasar suku bunga dan menekan sentimen terhadap aset berisiko. Risiko berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan respons dari Iran, karena arah pembicaraan ke depan bisa saja berada di luar kendali Washington. Hal ini membuat trader harus bersiap menghadapi risiko dua arah yang cukup besar. (yds)*
Sumber: Newsmaker.id