Emas Melemah, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Rabu (8/7) dan bergerak di sekitar US$4.030 per ons. Posisi tersebut menjadi level terendah sejak 2 Juli, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai sementara dengan Iran sudah “berakhir”.
Pernyataan Trump membuat harga minyak melonjak lebih dari 5%, karena pasar kembali mencemaskan risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan membuat suku bunga Amerika Serikat tetap tinggi lebih lama.
Berbicara dalam KTT NATO di Ankara, Trump menyatakan tidak tertarik untuk kembali berurusan dengan Iran. Ia juga memperingatkan bahwa Washington kemungkinan akan melancarkan serangan tambahan pada Rabu malam, setelah ketegangan antara kedua negara kembali meningkat.
Dari sisi market analis, pelemahan emas terjadi karena pasar lebih fokus pada dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan kebijakan Federal Reserve. Meski emas biasanya mendapat dukungan dari ketegangan geopolitik, ekspektasi suku bunga tinggi dapat menjadi beban karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Pasar kini memperkirakan setidaknya ada satu kali kenaikan suku bunga Federal Reserve hingga akhir 2026. Kondisi ini membuat ruang penguatan emas menjadi terbatas, terutama jika dolar AS dan imbal hasil Treasury tetap kuat di tengah meningkatnya risiko geopolitik.(yds)
Sumber: Newsmaker.id