Emas Stabil, FOMC Jadi Kunci
Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Asia hari Rabu (08/7) setelah sempat turun tajam pada sesi sebelumnya. Pasar masih mencerna ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran, sambil menunggu risalah rapat Federal Reserve bulan Juni.
Emas spot naik 0,3% ke level US$4.117,82 per troy ounce pada pukul 02.32 GMT. Sementara itu, emas berjangka turun 0,7% ke level US$4.127,59 per troy ounce. Sebelumnya, harga emas spot sempat anjlok 1,6% pada Selasa.
Tekanan terhadap emas muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran dan mencabut pelonggaran ekspor minyak Iran. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting dunia.
Eskalasi tersebut membuat harga minyak melonjak dan kembali memicu kekhawatiran inflasi berbasis energi. Jika harga minyak terus naik, tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.
Bagi emas, situasi ini cukup rumit. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya mendukung permintaan emas sebagai aset safe haven. Namun di sisi lain, risiko inflasi dan suku bunga tinggi menjadi tekanan besar karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Fokus utama pasar kini tertuju pada risalah rapat The Fed bulan Juni. Investor ingin melihat apakah The Fed masih mempertahankan nada hawkish di bawah Ketua baru Kevin Warsh. Jika risalah menunjukkan peluang suku bunga tinggi lebih lama, emas bisa kembali tertekan. Namun, jika The Fed terlihat lebih hati-hati setelah data tenaga kerja AS melemah, emas berpeluang mencoba rebound.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id