Brent Menguat, Hormuz Jadi Pemicu
Harga Brent kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat. Brent bergerak di sekitar US$76 per barel, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai balasan atas serangan kapal di Selat Hormuz.
Kenaikan Brent terjadi karena pasar kembali khawatir terhadap keamanan jalur pengiriman energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak paling penting dunia, sehingga setiap serangan terhadap kapal di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Sentimen makin panas setelah Komando Pusat AS menyatakan telah melakukan serangan terhadap sejumlah target Iran, termasuk fasilitas pertahanan, radar pesisir, fasilitas rudal anti-kapal, dan kapal milik Garda Revolusi Iran di sekitar Selat Hormuz. Langkah ini membuat risiko konflik AS-Iran kembali meningkat.
Sebelumnya, harga minyak sempat tertekan karena pasar mulai memperkirakan pasokan global akan kembali longgar. Arab Saudi memangkas harga jual minyak ke Asia, sementara OPEC+ memberi sinyal penambahan produksi. Namun, eskalasi terbaru di Hormuz membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Ke depan, Brent berpotensi tetap bergerak volatil. Jika serangan di Hormuz berlanjut atau Iran memberi balasan, Brent bisa kembali menguji area US$77–80 per barel. Namun, jika situasi cepat mereda dan arus kapal tetap berjalan, kenaikan Brent bisa tertahan karena pasar masih dibayangi risiko kelebihan pasokan. (asd)*
Source: Newsmaker.id