Franc Tertekan, Dolar Menguat
Franc Swiss melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (08/7), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. USD/CHF melanjutkan kenaikan selama tiga hari berturut-turut dan bergerak di sekitar level 0,8090 pada sesi Asia. Penguatan dolar didukung oleh permintaan safe haven setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah kapal LNG Qatar dan tanker minyak Saudi dilaporkan menjadi sasaran serangan di jalur pelayaran penting tersebut. Iran mengecam serangan udara AS sebagai bentuk agresi terang-terangan dan memperingatkan akan memberi respons militer yang keras. Teheran juga kembali menegaskan sikapnya untuk menolak campur tangan AS dalam pengelolaan dan pengendalian Selat Hormuz.
Meski dolar AS menguat, ruang kenaikannya masih bisa terbatas karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai melunak. Data Nonfarm Payrolls AS pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan membuat pasar menurunkan proyeksi total kenaikan suku bunga hingga Desember menjadi sekitar 26 basis poin, dari sebelumnya 38 basis poin. Artinya, pasar mulai melihat peluang The Fed tidak akan terlalu agresif dalam memperketat kebijakan.
Dari Swiss, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik di atas 0,34%, mengikuti kenaikan biaya pinjaman global setelah harga minyak melonjak dan memicu kembali kekhawatiran inflasi. Namun, inflasi domestik Swiss justru melambat ke 0,5% pada Juni, masih berada dalam target Swiss National Bank. IMF juga meminta SNB tetap fleksibel, termasuk siap memperketat kebijakan atau kembali memangkas suku bunga ke zona negatif jika risiko stagflasi meningkat.(asd)
Sumber: Newsmaker.id