Minyak Menguat, Hormuz Nyaris Tak Bisa Dilalui Saat Diplomasi AS–Iran Mandek
Harga minyak naik pada hari Senin (27/4) setelah upaya melanjutkan pembicaraan damai perang Iran kembali tersendat, membuat Selat Hormuz tetap nyaris tidak bisa dilalui dan memperpanjang gangguan pasokan yang mengguncang pasar global. Kontrak WTI Juni menguat 2,1% dan ditutup di US$96,37/barel di New York, sementara Brent Juni naik 2,8% ke US$108,23/barel.
Gelombang headline menegaskan jurang posisi kedua pihak masih lebar. Gedung Putih menyebut Presiden Donald Trump membahas proposal Iran bersama tim keamanan nasional, namun tidak menjelaskan detail maupun respons AS. Di akhir pekan, Trump membatalkan rencana perjalanan utusan AS ke Pakistan—negara mediator—sementara Iran menyatakan tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman, blokade, atau tekanan. Meski gencatan senjata sejak awal April relatif terjaga, blokade pelayaran oleh AS dan Iran menekan transit Hormuz mendekati nol, mengunci pasokan minyak, bahan bakar, gas, hingga komoditas terkait pupuk dan menjaga risiko inflasi tetap tinggi.
Dengan arus Hormuz tersumbat, pasar mulai memindahkan premi harga ke kurva yang lebih panjang karena pasokan diperkirakan ketat lebih lama. Risiko “demand destruction” juga mulai dibicarakan—mulai dari maskapai memangkas jadwal—meski masih ada bantalan seperti sisa cakupan impor jet fuel Eropa yang disebut masih memadai. Arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan perundingan, status blokade dan jumlah kapal yang benar-benar bisa melintas, eskalasi insiden maritim, serta langkah sanksi dan penegakan yang dapat mengubah aliran barel secara cepat.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id