Minyak Mereda usai Trump Tunda Serangan ke Pembangkit Listrik Iran
Harga minyak jatuh tajam pada Senin (23/3) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda selama lima hari rencana serangan militer terhadap pembangkit listrik Iran, menyusul apa yang ia sebut sebagai pembicaraan “konstruktif”. Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang sebelumnya berisiko memicu eskalasi baru, ketika konflik memasuki pekan keempat.
Kontrak berjangka Brent turun sekitar 9,72% ke $101,28 per barel pada 12:54 GMT, setelah sempat merosot hingga 14,5% ke level terendah sesi di $96. Sementara itu, WTI melemah hampir 8,9% ke $89,49 per barel, setelah sebelumnya sempat turun hingga 14,2% dan menyentuh $84,37.
Penurunan sempat memangkas sebagian kerugian setelah kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Laporan tersebut membuat pasar sedikit mengoreksi reaksi awal, namun harga minyak tetap berada di zona merah karena volatilitas masih tinggi.
Sebelumnya pada Sabtu, Trump memperingatkan bahwa pembangkit listrik Iran akan dihancurkan jika Teheran gagal “membuka penuh” Selat Hormuz untuk semua pelayaran dalam waktu 48 jam, dengan deadline sekitar 7:44 p.m. EDT (23:44 GMT) pada Senin. Pernyataan itu memicu ancaman balasan dari Garda Revolusi Iran (IRGC), yang mengatakan akan menyerang pembangkit listrik Israel dan fasilitas yang memasok pangkalan AS di wilayah Teluk jika Trump benar-benar menjalankan ancamannya untuk “menghancurkan” jaringan listrik Iran.
Konflik sejauh ini sudah merusak sejumlah fasilitas energi utama di kawasan Teluk dan hampir menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur yang menangani sekitar 20% aliran minyak dunia dan LNG. Kondisi ini membuat pasar minyak bergerak sangat “headline-driven”: satu pernyataan bisa memicu lonjakan atau kejatuhan besar dalam satu sesi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id