Minyak Melonjak saat AS dan Iran Saling Lempar Ancaman
Harga minyak melonjak pada Senin (23/3) ketika pasar menilai ultimatum Presiden AS Donald Trump yang mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran.
Minyak Brent naik hingga menembus $113 per barel dan berada di jalur menuju penutupan tertinggi sejak pertengahan 2022, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Selama akhir pekan, Trump memperingatkan akan “menghancurkan” (obliterate) pembangkit listrik utama Iran jika jalur Hormuz tidak dibuka kembali untuk kapal-kapal pengiriman hingga Senin malam. Pernyataan itu memicu lonjakan premi risiko karena pasar melihat ancaman terhadap infrastruktur energi akan langsung berdampak pada pasokan fisik dan logistik kawasan.
Teheran membalas dengan menyatakan akan menarget aset AS dan Israel di kawasan, termasuk infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi, jika fasilitas energinya sendiri diserang. Seorang pejabat senior Iran juga memperingatkan bahwa entitas keuangan yang membeli US Treasuries dapat dianggap sebagai “target sah,” menambah dimensi risiko yang merembet ke pasar keuangan.
Harga minyak sudah melonjak sekitar 50% sejak perang Iran dimulai, karena konflik dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, membuat Hormuz efektif tertutup dan menekan produksi minyak Timur Tengah secara tajam. Pasar menilai gangguan ini sudah bertransformasi menjadi krisis pasokan yang lebih luas, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek.
Upaya meredakan reli sejauh ini belum efektif. Pelepasan cadangan strategis secara terkoordinasi serta langkah AS untuk memfasilitasi penjualan minyak Rusia dan Iran belum mampu menahan laju kenaikan, karena risiko eskalasi dan ketidakpastian keamanan pelayaran tetap dominan.
Di sisi AS, minyak WTI juga menguat tajam dan sempat melampaui $101 per barel, juga berada di jalur menuju penutupan tertinggi sejak pertengahan 2022. Seperti Brent, pergerakan WTI mencerminkan pasar yang kembali mem-price-in skenario terburuk: gangguan berkepanjangan di Hormuz, serangan lanjutan ke aset energi, dan respons militer yang bisa memperpanjang krisis energi global.
Inti Newsmaker: reli minyak kini sepenuhnya digerakkan oleh eskalasi geopolitik. Selama ultimatum Hormuz dan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi masih berlanjut, pasar akan tetap memasang premi risiko tinggi—membuat minyak rawan lonjakan tajam, bahkan ketika langkah stabilisasi pasokan sudah dikeluarkan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id