Minyak Naik, Pasar Uji Kredibilitas Sinyal AS soal Hormuz
Harga minyak menguat setelah sesi yang kembali bergejolak, ketika pasar mencerna pesan yang berubah cepat dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump terkait perang Iran dan keamanan pengiriman melalui Selat Hormuz. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik hingga 6,2% ke US$88,59 per barel setelah anjlok 12% pada Selasa, memperpanjang rangkaian pergerakan ekstrem yang mengguncang pasar pekan ini.
Volatilitas dipicu kebingungan informasi mengenai pengawalan kapal tanker. Menteri Energi AS Chris Wright sempat memposting—lalu menghapus—pesan bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal tanker melalui selat dekat Iran, sebelum Gedung Putih mengakui tidak ada operasi yang terjadi. Peristiwa ini menambah ketidakpastian di pasar yang sangat sensitif terhadap headline, terutama ketika arus kapal tanker di Hormuz menyusut drastis.
Gangguan efektif di Selat Hormuz—jalur yang biasanya menangani sekitar seperlima aliran minyak global—telah memaksa produsen utama memangkas produksi dan mendorong kenaikan harga energi, termasuk minyak dan gas alam. Pelaku pasar kini menilai apakah lalu lintas kapal dapat kembali normal, karena pemulihan pengiriman menjadi penentu utama apakah premi risiko energi akan bertahan atau menyusut.
Sementara Trump pada Senin malam mengatakan konflik dapat segera berakhir meski bukan minggu ini, pejabat AS pada Selasa mengisyaratkan operasi militer meningkat dan peluang diplomasi kecil, meredam optimisme pasar. Sejumlah unggahan media sosial yang saling bertentangan, termasuk narasi soal ranjau, membuat harga bergerak dalam pola “kabut perang”, ketika pelaku pasar bereaksi real-time terhadap perkembangan yang belum terkonfirmasi.
Dari sisi fundamental, tekanan pasokan makin menonjol. Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait disebut menurunkan produksi kolektif hingga 6,7 juta barel per hari atau sekitar 6% dari produksi global, sementara kilang terbesar di UEA menghentikan operasi setelah serangan drone. CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan konsekuensi yang kian berat bagi pasar dan ekonomi global jika gangguan berlarut. Pada perdagangan pagi di Singapura, WTI pengiriman April naik 5,9% menjadi US$88,39 per barel, sementara Brent pengiriman Mei ditutup 11% lebih rendah di US$87,80 per barel pada Selasa.(alg)
Sumber: Newsmaker.id