Minyak Menguat, Pasar Cerna Sinyal AS soal Hormuz
Harga minyak kembali menguat setelah sesi yang sangat volatil, ketika pasar merespons pernyataan yang berubah cepat dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump terkait perang Iran dan status pelayaran di Selat Hormuz. West Texas Intermediate (WTI) sempat naik hingga 5,3% ke US$87,89 per barel setelah anjlok 12% pada Selasa, mencerminkan kondisi pasar yang mudah berbalik arah akibat headline.
Volatilitas bertambah setelah Menteri Energi AS Chris Wright sempat mengunggah—lalu menghapus—klaim bahwa Angkatan Laut AS mengawal tanker minyak melewati Hormuz. Gedung Putih kemudian menyatakan tidak ada operasi pengawalan yang terjadi. Pasar juga menghadapi rangkaian pesan media sosial yang saling bertentangan dari Trump, termasuk soal dugaan ranjau di selat tersebut. Trump mengatakan konflik akan berakhir “segera,” namun menambahkan bukan pekan ini, di tengah tekanan ekonomi dan politik yang meningkat.
Gangguan efektif terhadap pelayaran di Hormuz—jalur yang biasanya menangani sekitar seperlima arus minyak global—mendorong sejumlah produsen besar memangkas produksi dan mengerek harga energi, termasuk minyak mentah dan gas alam. Lalu lintas tanker dilaporkan menurun tajam, dan pelaku pasar kini memantau tanda-tanda pemulihan arus perdagangan normal sebagai penentu apakah premi risiko pasokan bertahan.
Pada pembaruan harga, WTI pengiriman April naik 4,9% menjadi US$87,55 per barel pada pukul 06.12 waktu Singapura. Brent untuk penyelesaian Mei tercatat ditutup turun 11% di US$87,80 per barel pada Selasa, menegaskan besarnya ayunan intraday yang masih mendominasi perdagangan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id