Dolar Melemah, Deal AS–Iran Picu Unwinding Long USD
Dolar AS melemah terhadap seluruh mata uang G-10 pada hari Senin (15/6) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Indeks Dolar Spot Bloomberg sempat turun hingga 0,4% sebelum memangkas sebagian pelemahan, melanjutkan penurunan 0,4% pada pekan sebelumnya.
Tekanan terhadap dolar terjadi seiring pasar mengurangi permintaan safe haven setelah risiko gangguan energi mulai mereda. Yield Treasury AS tenor 2 tahun turun 5 bps ke 4,03%, sementara Brent anjlok 5,5% ke bawah US$83/barel. Kombinasi ini memperkuat narasi bahwa pasar mulai menurunkan ekspektasi inflasi energi dan risiko suku bunga tinggi yang lebih lama.
Di pasar FX, sejumlah desk momentum disebut mulai melepas posisi long dolar, mengikuti hedge fund lain yang sudah membangun posisi short sejak Kamis. Biaya lindung nilai mata uang di tenor pendek juga turun seiring munculnya aksi jual volatilitas baru, meski pelaku pasar masih menunggu detail resmi dari kesepakatan AS–Iran.
Swedish krona memimpin penguatan di antara mata uang G-10, sementara euro dan dolar Australia juga menguat. EUR/USD naik 0,5% ke 1,1622, meski Presiden ECB Christine Lagarde tetap memperingatkan bahwa harga energi tinggi mulai merembet ke bagian lain ekonomi. EUR/GBP naik 0,2% ke 0,8646, sementara AUD/USD menguat 0,6% ke 0,7088, level tertinggi sejak 5 Juni.
Secara fundamental, pelemahan dolar mencerminkan perubahan transmisi risiko global. Jika Hormuz dibuka dan minyak tetap turun, tekanan inflasi energi dapat mereda, yield AS berpotensi stabil lebih rendah, dan permintaan safe haven terhadap USD bisa berkurang. Namun, ruang pelemahan dolar masih bergantung pada penandatanganan deal, detail implementasi Hormuz, serta respons bank sentral terhadap risiko inflasi yang belum sepenuhnya hilang.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id