Minyak Anjlok, Pembukaan Hormuz Masih Tunggu Kepastian
Harga minyak turun tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Brent anjlok hingga 5,5% ke bawah US$83/barel, sementara WTI sempat turun di bawah US$80/barel. Penurunan ini memperpanjang koreksi dari puncak perang, dengan harga kini lebih dari 30% di bawah level tertingginya saat ketegangan berada di fase paling intens.
Sentimen pasar membaik setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah mengizinkan pembukaan “bebas tol” Hormuz dan mengakhiri blokade terhadap Iran. Kantor Berita Fars Iran menyebut transit akan gratis selama 60 hari, sementara Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi kesepakatan telah tercapai. Namun, teks resmi baru akan dipublikasikan setelah penandatanganan di Swiss pada Jumat.
Meski harga minyak langsung turun, pelaku pasar belum sepenuhnya menganggap risiko pasokan selesai. Pemilik kapal, perusahaan minyak, dan asuransi masih menunggu detail teknis sebelum kembali melanjutkan transit normal. Hambatan utama mencakup potensi ranjau laut, tarif asuransi yang masih tinggi, serta kejelasan mengenai seberapa besar kontrol Iran terhadap kapal yang melewati jalur tersebut.
Selat Hormuz menjadi titik penting karena pada kondisi normal membawa sekitar seperlima aliran minyak global. Selama perang, penutupan jalur ini mengganggu pasar energi dan mendorong berbagai langkah mitigasi, termasuk pengurangan impor oleh China dan pelepasan cadangan darurat dalam jumlah besar. Dalam beberapa pekan terakhir, sebagian arus minyak dari negara Teluk sudah mulai lolos, membantu menekan harga sebelum kesepakatan diumumkan.
Secara fundamental, penurunan minyak mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik. Jika Hormuz benar-benar dibuka dan lalu lintas kapal kembali normal, tekanan pasokan dapat mereda dan risiko inflasi energi ikut turun. Ini dapat mengurangi tekanan terhadap bank sentral, termasuk Federal Reserve, yang pekan ini akan meninjau arah suku bunga.
Namun, normalisasi pasokan tidak otomatis terjadi. Produksi dari ladang Teluk Persia yang sempat dihentikan bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih karena tantangan teknis, geologis, dan kerusakan infrastruktur. Struktur pasar juga menunjukkan ketatnya pasokan mulai berkurang, dengan spread Brent terdekat menyempit menjadi kurang dari US$1/barel dalam backwardation, jauh dari lebih dari US$12 pada April.
Fokus pasar berikutnya adalah penandatanganan resmi kesepakatan, pembukaan fisik Hormuz, respons perusahaan asuransi, arus kapal yang benar-benar melewati selat, serta negosiasi nuklir AS–Iran selama 60 hari. Jika implementasi berjalan lancar, tekanan pada minyak dapat berlanjut. Namun jika detail kesepakatan tertunda atau risiko keamanan tetap tinggi, harga minyak masih berpeluang kembali volatil.(gn)
Sumber: Newsmaker.id