Perang Iran Paksa Pemangkasan Produksi Lebih Dalam, Minyak Melonjak di Atas $100
Harga minyak menembus $100 per barel setelah lebih banyak produsen utama Timur Tengah memangkas produksi—termasuk pemimpin OPEC, Arab Saudi—di tengah kondisi lalu lintas tanker di Selat Hormuz yang nyaris berhenti total. Mandeknya jalur vital ini membuat pasokan ke pasar global tersedak, mendorong risk premium energi melonjak tajam.
Brent sempat naik sekitar 13% ke area $104 dan berpotensi mencetak kenaikan harian terbesar dalam nilai dolar sejak kontrak futures mulai diperdagangkan pada 1988. Meski sempat mendekati $120, reli kemudian mereda setelah muncul sinyal bahwa ekonomi-ekonomi terbesar dunia sedang mempertimbangkan rilis cadangan minyak darurat secara terkoordinasi. Para menteri keuangan G7 dijadwalkan membahas langkah tersebut pada Senin.
Tekanan pasokan makin nyata karena persoalan penyimpanan. Arab Saudi dilaporkan mulai memangkas produksi saat tangki penyimpanan cepat penuh—mengikuti langkah serupa dari negara tetangga. Kerajaan memang mengalihkan suplai melalui pipa ke pelabuhan barat Yanbu, namun kapasitasnya dinilai belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume ekspor yang biasanya lewat Teluk.
Konflik belum menunjukkan tanda mereda sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran lebih dari sepekan lalu. Dampaknya bukan hanya ke minyak, tapi juga gas alam, karena penutupan Hormuz—jalur sempit yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima minyak dunia—ditambah serangan ke infrastruktur energi membuat kekhawatiran krisis inflasi energi kembali membesar. Kuwait dan Uni Emirat Arab mulai mengurangi output sejak akhir pekan karena storage menipis akibat penutupan Hormuz, sementara Irak sudah lebih dulu mulai menutup produksi pekan lalu.
Presiden AS Donald Trump ikut menanggapi lonjakan harga minyak, menyebut pergerakan jangka pendek sebagai “harga kecil” demi perdamaian dan menambahkan harga akan turun cepat ketika “ancaman nuklir Iran” selesai. Namun analis menilai pasar punya masalah yang lebih mendasar: semakin lama Hormuz tertutup, semakin banyak produksi yang “dipaksa berhenti” dan harga perlu naik lebih tinggi untuk menekan permintaan. JPMorgan memperkirakan pemangkasan produksi di Timur Tengah bisa melebar melampaui jutaan barel per hari dalam waktu dekat jika bottleneck dan keterbatasan storage berlanjut.
Dampak lanjutan mulai terasa ke produk energi. Harga diesel dan produk distilat melonjak, memperbesar risiko inflasi biaya transportasi dan logistik. Pemerintah China dilaporkan meminta kilang utama menahan ekspor diesel dan bensin, sementara Korea Selatan meninjau opsi pembatasan harga minyak untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun. Di AS, harga bensin ritel melonjak ke level tertinggi sejak 2024, menambah tekanan politik menjelang agenda pemilu paruh waktu.
Harga Brent untuk pengiriman Mei berada di $104,61 per barel pada pukul 11:13 pagi di London. Harga WTI untuk pengiriman April naik 13% menjadi $102,52 per barel. Harga berjangka melonjak hingga rekor 36% minggu lalu. (mrv)
Sumber : Newsmaker.id