• Sat, Mar 7, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

7 March 2026 04:08  |

Minyak AS Catatkan Kenaikan Mingguan Terbesar Sepanjang Sejarah Ditengah Perang Iran

Minyak mentah AS membukukan kenaikan mingguan terbesar yang pernah tercatat, seiring perang di Iran mengacaukan arus energi global. Pengiriman lewat Selat Hormuz dilaporkan nyaris berhenti total, menambah tekanan pasokan dan mendorong harga minyak melonjak tajam.

Pada Jumat (6/3), WTI melonjak 12% dan ditutup sedikit di bawah $91 per barel—kenaikan harian terbesar hampir dalam enam tahun. Brent ditutup mendekati $93 per barel. Momentum bullish juga dipanaskan oleh peringatan Iran bahwa Uni Eropa bisa menjadi “target yang sah” jika ikut terlibat dalam perang.

Gangguan pasokan regional makin terasa. Laporan Wall Street Journal menyebut Kuwait mulai memangkas produksi di beberapa ladang karena kapasitas penyimpanan menipis, menjadi sinyal terbaru bahwa output kawasan mulai terdampak langsung. Citigroup memperkirakan pasar minyak kehilangan sekitar 7–11 juta barel per hari akibat gangguan arus melalui Hormuz.

Kenaikan harga tetap terjadi meski Presiden Donald Trump memberi sinyal akan ada langkah “segera” untuk mengurangi tekanan harga. Namun Direktur National Economic Council Kevin Hassett membantah Gedung Putih akan segera mengakses Strategic Petroleum Reserve (SPR). “Kami punya rangkaian alat yang bisa dipakai,” kata Hassett.

Sejauh ini, Departemen Keuangan AS melonggarkan pembatasan kemampuan India untuk membeli minyak Rusia, sementara US International Development Finance Corp mengumumkan rencana $20 miliar untuk re-asuransi maritim (termasuk risiko perang) di kawasan Teluk. Jepang juga dilaporkan mempertimbangkan penggunaan cadangan nasional, dan pasar mulai berspekulasi adanya kemungkinan rilis cadangan darurat terkoordinasi dari beberapa negara untuk memaksimalkan dampak.

Namun dengan perang belum menunjukkan tanda mereda, Goldman Sachs menyoroti risiko skenario minyak tembus $100/barel bila gangguan berlangsung lama. Kontrak diesel Eropa mengarah ke kenaikan mingguan lebih dari 50%, dan bank sentral mulai mengisyaratkan kekhawatiran atas potensi kembalinya inflasi.

Menurut Joint Maritime Information Center (JMIC), terjadi “hampir penghentian total” lalu lintas komersial melalui Hormuz. Penyebabnya mencakup ancaman keamanan, kendala asuransi, ketidakpastian operasional, dan gangguan efektif di jalur tersebut. Tekanan juga menjalar ke pasar pengapalan: sebagian pengirim mulai memakai kapal lebih kecil dari Teluk AS ke Asia karena biaya tanker raksasa melonjak. Sementara itu, hanya sembilan VLCC kosong yang tersisa untuk penyimpanan terapung bagi produsen Timur Tengah—setelah penuh, tangki darat berisiko cepat penuh.

Konflik yang melibatkan sekitar belasan negara sejak kampanye AS–Israel dimulai pada 28 Februari bukan hanya menghambat pelayaran, tapi juga memukul infrastruktur: beberapa kilang dan tanker dilaporkan ikut terdampak, dan sebagian produsen mulai menahan/menurunkan output. Menteri energi Qatar bahkan memperingatkan crude bisa melonjak sampai $150/barel dalam 2–3 minggu jika tanker dan kapal dagang tak bisa melintas Hormuz.

Secara historis, sekitar 20 juta barel per hari minyak dan produk petroleum melewati Hormuz (berdasarkan catatan International Energy Agency). Di tengah kesulitan mendapatkan pasokan, AS memberikan waiver jangka pendek agar India bisa membeli minyak Rusia—namun disebut hanya mengizinkan transaksi untuk minyak yang “sudah terdampar di laut”. India dilaporkan sudah membeli lebih dari 10 juta barel minyak Rusia, dan Reliance Industries disebut masih mencari tambahan pasokan.

Goldman Sachs menilai gangguan berkepanjangan di Hormuz dapat mendorong harga jauh lebih tinggi, meski skenario dasar mereka saat ini mengarah ke pemulihan pengiriman secara bertahap dan rata-rata futures sekitar $76/barel pada kuartal II. Namun mereka menegaskan: bila aliran lewat selat tetap sangat rendah selama beberapa pekan, Brent bisa menembus $100/barel.

Di Asia, tanda-tanda pengetatan mulai muncul. China dilaporkan meminta kilang besar menghentikan ekspor diesel dan bensin untuk memprioritaskan kebutuhan domestik, sementara kilang Jepang meminta pemerintah merilis minyak dari cadangan strategis.

WTI (April) naik 12% dan ditutup di $90,90/barel (New York).  Sementara Brent (Mei) naik 8,5% dan ditutup di $92,69/barel.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
OIL

Brent Stabil, Risiko Hormuz Belum Hilang

Harga minyak bergerak stabil setelah Amerika Serikat dan Iran menyampaikan nada positif dalam pembicaraan terkait program nuk...

18 February 2026 15:41
BIAS23.com NM23 Ai