Minyak Koreksi, Pasar Galau antara Risiko Rusia dan Ancaman Oversupply
Harga minyak dunia terkoreksi tipis setelah tiga hari menguat, dengan pergerakan masih terjebak dalam kisaran yang sempit.
Kontrak Brent untuk pengiriman Februari turun sekitar 1% ke level US$63,13 per barel, sementara WTI untuk pengiriman Januari melemah 1,1% ke sekitar US$59,47 per barel. Sejak awal November, Brent tercatat bergerak dalam rentang kurang dari US$4, menandakan pasar masih cenderung “rangebound”. Pelaku pasar kini fokus memantau pembelian minyak mentah Rusia oleh India, setelah Presiden Vladimir Putin berjanji akan memberikan “pengiriman bahan bakar tanpa gangguan” ke negara tersebut.
Janji itu diperkirakan menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan ketika negosiator AS tiba di India untuk melanjutkan dialog perdagangan.
Di saat yang sama, perhatian juga tertuju pada perkembangan potensi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Meski pembahasan terus berjalan, tensi politik masih terasa. Presiden AS Donald Trump mengaku kecewa dengan cara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menangani proposal perdamaian dari Washington terkait perang yang sudah berlangsung hampir empat tahun sejak invasi skala penuh Rusia.
Di lapangan, Ukraina tetap menyerang infrastruktur energi Rusia, sehingga menambah ketidakpastian terhadap arus pasokan minyak dan produk olahan energi dari kawasan tersebut.
Namun, di balik risiko geopolitik, pasar tetap dihantui kekhawatiran kelebihan pasokan (oversupply). Produksi yang lebih tinggi dari negara-negara OPEC+ dan produsen di luar kelompok seperti AS, Brasil, dan Guyana dikhawatirkan akan melampaui pertumbuhan permintaan yang relatif lemah. Tiga lembaga besar — EIA AS, IEA, dan OPEC — dijadwalkan merilis laporan pasar bulanan pekan ini dan bisa memberikan petunjuk tambahan mengenai keseimbangan pasokan-permintaan ke depan.
Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memperingatkan bahwa jika aliran minyak dan produk olahan Rusia akhirnya berhasil sepenuhnya menghindari sanksi, kekhawatiran oversupply tersebut akan benar-benar terealisasi dan bisa menyeret harga Brent turun ke sekitar US$60 per barel hingga 2026.(yds)
Sumber: Bloomberg.com