Emas Anjlok, Data Tenaga Kerja AS Dorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga emas turun setelah data tenaga kerja AS yang kuat memicu ekspektasi bahwa The Federal Reserve kemungkinan akan menaikkan suku bunga tahun ini, menciptakan tekanan bagi logam mulia. Spot emas diperdagangkan di sekitar US$4.367,77 per ons pada pukul 10:11 pagi waktu New York, setelah logam ini sempat jatuh sekitar 2,4% pada sesi tersebut.
Kekuatan pasar tenaga kerja menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga tetap terbuka, sementara ketegangan di Timur Tengah mendorong harga energi naik. Kenaikan suku bunga umumnya berdampak negatif pada emas, yang merupakan aset non-yielding. Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman & Co. menekankan bahwa emas menghadapi “dua tekanan utama: kenaikan imbal hasil riil dan penguatan dolar AS.” Penembusan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari bisa membuka risiko penurunan lebih dalam.
Investor kini telah mematok kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar seperempat poin pada Desember, dengan peluang sekitar 60% terjadi pada Oktober. Sebelumnya, pasar memperkirakan kenaikan berikutnya akan terjadi pada Maret. Pertemuan pejabat Fed dijadwalkan pada 16–17 Juni, dipimpin Ketua baru Kevin Warsh.
Sementara itu, upaya damai sementara antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Pertempuran di Lebanon dan konflik di Selat Hormuz menambah kekhawatiran pasokan energi, mendorong harga minyak naik dan inflasi global meningkat. Logam mulia lainnya juga melemah: perak turun 6% menjadi US$69,41 per ons, sementara platinum dan palladium juga mencatat penurunan. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,3%.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id