NFP “Panas”, Dolar Melonjak ke Tertinggi 2 Bulan
Dolar AS menguat tajam pada Jumat (5/6) dan menyentuh level tertinggi hampir dua bulan, ditopang kombinasi data tenaga kerja yang solid dan memudarnya harapan terobosan diplomatik di Timur Tengah. Indeks dolar (DXY) naik 0,7% ke 100,06 dan berada di jalur menguat sekitar 1,2% dalam sepekan, saat pasar kembali memosisikan diri pada skenario suku bunga AS lebih tinggi lebih lama.
Penguatan dolar dipicu laporan Nonfarm Payrolls Mei yang mencatat penambahan 172 ribu pekerjaan, jauh di atas perkiraan 85 ribu, sementara pengangguran bertahan di 4,3%. Revisi data Maret dan April juga menambah 93 ribu pekerjaan. Rangkaian data ini memperkuat pandangan bahwa sisi “maximum employment” dalam mandat The Fed masih terjaga, sehingga fokus pasar kembali mengarah pada inflasi—terutama ketika harga energi masih tinggi.
Repricing suku bunga mendorong yield naik dan menekan obligasi, seiring investor melepas surat utang setelah peluang kenaikan suku bunga meningkat. Pasar derivatif kini memprice-in kenaikan 25 bps sepenuhnya sebelum akhir tahun, yang menjadi dukungan langsung bagi dolar. Di saat yang sama, kenaikan yield dan risiko suku bunga ikut membebani ekuitas AS pada Jumat.
Dari sisi geopolitik, proses damai kembali diragukan setelah Hezbollah menolak gencatan Israel–Lebanon yang dimediasi AS—padahal langkah tersebut sempat dipandang sebagai jembatan ke kesepakatan lebih luas AS–Iran. Iran menjadikan penghentian perang di Lebanon sebagai syarat penting, sementara Selat Hormuz masih nyaris tertutup dan menjaga tekanan inflasi energi global. Meski harga minyak melemah pada hari itu, kontrak acuan masih mengarah naik secara mingguan.
Di pasar valas lain, euro melemah ke sekitar $1,1525 setelah data menunjukkan GDP zona euro kontraksi 0,2% pada kuartal I 2026, sementara pound turun ke $1,3335. Yen Jepang juga tetap rapuh dan kembali menembus level 160 per dolar, menambah perhatian pasar pada risiko intervensi Tokyo.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id