Brent Dekati US$100, Risiko Pasokan Timur Tengah Masih Panas
Harga minyak Brent bergerak di sekitar US$99,97 per barel pada perdagangan Jumat (24/7), setelah sempat menembus US$100 untuk pertama kalinya dalam hampir dua bulan. Meski sedikit melemah, Brent masih mencatat kenaikan mingguan sekitar 13,5%, sementara WTI berada di sekitar US$91,49 per barel dan mengarah ke penguatan mingguan 10,9%. Kenaikan ini dipicu oleh serangan Houthi terhadap tanker di Laut Merah, ancaman Presiden Donald Trump untuk memperluas serangan ke Iran, serta gangguan jalur ekspor minyak Kazakhstan di pesisir Laut Hitam.
Dari sisi market, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil karena pasar mencemaskan gangguan pasokan di dua jalur penting, yaitu Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Jika ketegangan AS-Iran dan serangan Houthi berlanjut, premi risiko pada Brent dan WTI bisa tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan inflasi global, menjaga yield obligasi tetap tinggi, dan membuat aset berisiko seperti saham lebih rentan terkoreksi. (asd)
Harga minyak pada saat analisis ini dirilis: $94.85
- Beli jika harga bergerak ke $95.20
- Jual jika harga bergerak ke $94.55
Resisten 2: $96.15
Resisten 1: $95.65
Support 1: $94.15
Support 2: $93.75
Catatan: Artikel ini bersifat analitis dan bukan referensi definitif. Harap mempengaruhi dampak perkembangan fundamental dan teknikal terhadap perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id