Rumor Intervensi Yen, Emas Langsung “Meledak”
Harga emas kembali melonjak pada hari Jumat (23/1), naik lebih dari 1% dan mencetak rekor baru di sekitar $4.989. Pemicunya datang dari pelemahan dolar AS yang tertekan oleh rumor intervensi untuk menguatkan yen Jepang di pasar valas, meski sentimen pasar secara umum sedang risk-on.
Dolar makin kehilangan tenaga dan menyentuh level terlemah sejak Oktober 2025. Dollar Index (DXY) turun lebih dari 0,5% ke sekitar 97,17, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 97,14. Saat dolar melemah, emas otomatis terlihat lebih menarik karena lebih “murah” bagi pembeli non-AS.
Menariknya, imbal hasil obligasi AS cenderung stabil sepanjang hari. Artinya, reli emas kali ini bukan karena yield jatuh, melainkan lebih karena dolar yang loyo dan arus lindung nilai yang tetap kuat. Data sentimen konsumen AS juga menunjukkan rumah tangga Amerika mulai lebih optimistis, menambah warna pada pergerakan pasar.
Dari sisi aktivitas bisnis, survei S&P Global mengindikasikan kondisi membaik, tetapi sinyal permintaan baru justru mulai melemah di manufaktur dan jasa. Ini memunculkan kekhawatiran bahwa laju pertumbuhan di kuartal pertama bisa tidak sekuat yang diharapkan, meski sebelumnya ekonomi AS sempat mencetak pertumbuhan PDB kuartal III 2025 yang sangat kencang.
Sementara itu, pasar masih memegang skenario pemangkasan suku bunga The Fed di 2026, meski ruang “dovish” bisa berubah jika ekspektasi itu dikurangi. Untuk saat ini, emas masih unggul dengan kenaikan sekitar 15% sejak awal tahun, sementara perak lebih agresif dengan lonjakan sekitar 39%—tanda bahwa reli logam mulia belum sepenuhnya kehabisan tenaga. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id