Dolar Tertekan, Risiko Politik Masih Menggantung
Dolar AS pada hari Jumat (23/1) menutup pekan dengan nada lemah, bertahan di area 97,80 pada indeks dolar (DXY) — dekat level terendah beberapa bulan — setelah pasar sempat diguncang “drama Greenland” dan tarik-ulur ancaman tarif Trump ke Eropa. Meski Trump kemudian mengumumkan kerangka kerja dengan NATO untuk pembahasan Greenland, detailnya masih tipis, jadi investor tetap pasang mode hati-hati: risiko politik dianggap belum benar-benar hilang.
Dari sisi data, revisi PDB AS Q3 2025 ke 4,4% sempat memberi bantalan, tapi inflasi PCE yang masih panas membuat pasar menilai The Fed tidak akan buru-buru agresif — hasilnya: dolar sulit dapat tenaga kuat, apalagi saat sentimen “Sell America” sempat muncul di awal pekan.
Di pasar harian, DXY juga terseret setelah PMI AS keluar sedikit lebih rendah dari perkiraan, menambah kesan bahwa pertumbuhan tetap jalan, tapi tidak sekuat yang dibutuhkan untuk memutar balik tren dolar dengan cepat. Fokus pelaku pasar kini bergeser ke kombinasi data vs risiko kebijakan, bukan hanya soal suku bunga.
Untuk mata uang utama, EUR/USD bertahan di kisaran 1,174 seiring PMI zona euro memberi sinyal campuran: manufaktur membaik tapi masih kontraksi, jasa melandai. Pekan depan, pasar Eropa menunggu data besar seperti PDB Jerman dan inflasi.
GBP/USD menguat ke sekitar 1,360 — area tertinggi sejak September 2025 — ditopang data Inggris yang solid (ritel dan PMI membaik), sehingga pound terlihat lebih “berisi” dibanding dolar pekan ini.
Di Asia, USD/JPY masih berfluktuasi di sekitar 158 setelah BoJ menahan suku bunga 0,75% dan pasar menunggu sinyal langkah berikutnya; isu fiskal Jepang dan kekhawatiran potensi intervensi masih jadi “bayangan” yang bikin yen gampang goyah. Sementara AUD/USD mendekati 0,688 — level tertinggi sejak 2024/2025 — terbantu data domestik Australia yang kuat dan dorongan risk sentiment, plus efek logam mulia yang sedang panas. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id