Greenland Mendingin, Emas Ikut “Kalem”
Harga emas bergerak stabil pasca ketegangan Greenland mulai mendingin, membuat arus “lari ke aset aman” yang sebelumnya mendorong rekor demi rekor jadi tertahan. Pada perdagangan terbaru, emas bertahan di sekitar $4.825/oz, masih terpaut kira-kira $60 dari rekor tertinggi yang sempat didekati selama beberapa sesi beruntun.
Pemicu utamanya datang dari langkah Presiden AS Donald Trump yang menarik ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa, setelah menyebut ada “kerangka kesepakatan” terkait Greenland bersama Sekjen NATO Mark Rutte. Menurut pejabat Eropa yang mendapat paparan, kerangka itu mencakup penguatan kehadiran NATO di wilayah Arktik, pembicaraan soal penempatan aset pertahanan AS, serta arah kerja sama yang menutup ruang bagi kepentingan China—termasuk urusan mineral.
Sebelumnya, manuver Trump soal Greenland sempat memicu krisis diplomatik dengan sekutu Eropa dan mengguncang pasar, sehingga emas kebanjiran permintaan sebagai safe haven. Tahun ini saja, emas sudah menguat sekitar 12%, meneruskan reli panjang yang dalam setahun terakhir membuat harga berkali-kali memecahkan rekor.
Meski tensi mereda, fondasi bullish emas belum benar-benar hilang. Sejumlah pelaku pasar menilai ketidakpastian global justru memperlihatkan bagaimana komoditas, energi, dan rantai pasok bisa “dipakai sebagai senjata” dalam tarik-menarik geopolitik—dan kondisi seperti ini biasanya bikin investor tetap nyaman memegang emas.
Selain faktor geopolitik, pasar juga masih memantau isu domestik AS: tekanan politik terhadap Federal Reserve. Upaya Trump untuk mendorong pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook memantik kekhawatiran soal independensi bank sentral, dan isu ini dinilai ikut mengikis kepercayaan pada dolar—membuat logam mulia tetap punya bantalan.
Sementara itu, Trump juga mengklaim pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berjalan baik dan kembali menyuarakan harapan perang bisa berakhir, yang ikut menurunkan suhu risiko. Namun, banyak investor tetap “siaga” karena ketidakpastian bisa balik kapan saja.
Dari sisi proyeksi, Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400/oz (dari $4.900), dengan alasan permintaan investor dan pembelian bank sentral yang menguat. Ini memperkuat narasi bahwa setiap koreksi cenderung diperlakukan pasar sebagai peluang beli.
Di logam lain, perak sempat berbalik naik dan menembus area $94/oz setelah sebelumnya melemah, menunjukkan volatilitas masih tinggi. Platinum dan palladium juga ikut menguat, sementara indeks dolar Bloomberg bergerak melemah tipis—membuat ruang gerak logam mulia tetap terbuka meski euforia safe haven sudah tidak sekencang kemarin.(yds)
Sumber: Newsmaker.id