Trump Klaim “Kerangka Kesepakatan”, Minyak Menguat
Harga minyak bergerak naik pada hari Rabu (21/1) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia menahan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa, sambil mengklaim sudah ada “kerangka” kesepakatan terkait Greenland. Pernyataan ini bikin pasar sedikit lebih lega, karena risiko perang dagang—yang bisa menekan pertumbuhan dan permintaan energi—sementara waktu terlihat mereda.
Di penutupan perdagangan terbaru, WTI kontrak Maret naik tipis dan ditutup di $60,62 per barel, sementara Brent kontrak Maret menguat ke $65,24 per barel.
Meski isu Greenland agak mendingin, pasar minyak masih memegang “premi waspada” dari sisi geopolitik dan pasokan. Di Kazakhstan, gangguan produksi kembali jadi sorotan: operator Tengiz dilaporkan mendeklarasikan force majeure untuk pengiriman minyak ke sistem pipa CPC, dan penghentian di dua ladang besar (Tengiz dan Korolev) disebut bisa berlangsung beberapa hari lagi.
Kondisi di Kazakhstan juga bikin arus ekspor makin ketat. Bahkan, minyak dari ladang raksasa Kashagan dialihkan ke pasar domestik untuk pertama kalinya karena bottleneck di terminal CPC Laut Hitam setelah kerusakan peralatan.
Dari sisi fundamental, IEA menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 dan sedikit memperkecil perkiraan surplus, walau pasar tetap diproyeksikan oversupply. Artinya, harga bisa tertahan kalau suplai global kembali lancar.
Kesimpulannya: minyak saat ini ditopang dua narasi yang saling tarik-menarik—de-eskalasi tarif Greenland bikin sentimen membaik, tapi gangguan pasokan (Kazakhstan) + geopolitik masih jadi bantalan. Selama headline masih gampang berubah, trader cenderung tetap main cepat dan sensitif sama berita. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id