
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) kembali melemah ke bawah level 102 pada perdagangan Selasa (20/10/2026), ketika investor mulai berhati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, sementara pelaku pasar menantikan laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi salah satu indikator utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Meskipun dolar melemah, pasar masih memperkirakan peluang sekitar 83% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, untuk Desember, pelaku pasar justru memperhitungkan kemungkinan kenaikan bunga sebesar 94%. Perbedaan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa investor menilai The Fed kemungkinan memilih menunggu dalam jangka pendek, tetapi masih membuka peluang pengetatan kebijakan apabila tekanan inflasi Amerika Serikat tetap tinggi.
Sebelumnya, Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat lalu memilih tidak memberikan petunjuk mengenai hasil pertemuan FOMC bulan ini. Warsh menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan belum mengubah penilaiannya terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat. Sikap tersebut membuat investor menahan keputusan besar sembari menunggu data ekonomi berikutnya, terutama PCE, yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kekuatan tekanan inflasi dan kemungkinan perubahan suku bunga.
Dari kawasan Eropa, euro mulai menunjukkan pemulihan terbatas setelah sejumlah pemerintah berupaya mengendalikan gelombang demonstrasi yang sebelumnya berujung kerusuhan. Meredanya sebagian kekhawatiran politik membantu menopang euro dan memberikan tekanan terhadap indeks dolar AS. Sementara itu, yen Jepang masih melemah meskipun Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, menyampaikan bahwa inflasi inti Jepang semakin mendekati target 2%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan mata uang global masih dipengaruhi perbedaan kebijakan bank sentral dan sentimen geopolitik.
Ke depan, arah dolar AS akan sangat bergantung pada hasil inflasi PCE dan keputusan The Fed pekan depan. Jika inflasi kembali menunjukkan kenaikan lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpotensi menguat karena pasar semakin yakin suku bunga AS akan bertahan tinggi atau kembali dinaikkan. Sebaliknya, apabila inflasi mulai melandai, dolar berisiko mengalami tekanan lanjutan dan membuka peluang penguatan bagi mata uang utama lainnya serta emas. Dengan DXY kini berada di bawah 102, pasar tengah menunggu apakah pelemahan dolar hanya bersifat sementara atau menjadi awal perubahan arah menjelang keputusan The Fed.