
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak memangkas sebagian pelemahan pada perdagangan Senin setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim melancarkan serangkaian serangan rudal terhadap sejumlah target di Arab Saudi, termasuk infrastruktur energi dan bandara. Aksi tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, harga minyak sempat mendapat tekanan setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah yang membebaskan sebagian besar sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia. Kebijakan tersebut meningkatkan harapan akan bertambahnya pasokan minyak global, sehingga sempat menekan harga pada awal sesi.
Pada pukul 15.45 waktu AS atau 19.45 GMT, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun tipis 0,1% menjadi US$109,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember juga turun 0,1% ke US$98,45 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut sebelumnya mencatat kenaikan mingguan yang terutama didorong oleh kekhawatiran pasokan akibat pertempuran sengit antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Konflik tersebut meningkatkan risiko terhadap arus minyak melalui Selat Bab el-Mandeb, sementara peningkatan serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz turut memperburuk sentimen pasar.
Houthi pada Senin mengklaim telah melakukan enam operasi militer dalam 48 jam terakhir sebagai balasan atas serangan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap sejumlah fasilitas di Sanaa, Yaman. Target yang disebut termasuk fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta Bandara Internasional King Khalid dan Abha. Ketegangan meningkat setelah pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan ofensif besar awal bulan ini untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id