
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melemah pada perdagangan Kamis (15/10), menjauh dari level tertinggi dalam 18 bulan setelah penurunan tajam yield obligasi pemerintah AS mengurangi daya tarik Greenback. Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,44% ke area 102,00, sementara euro dan pound sterling menguat terhadap dolar.
Pelemahan dolar terjadi meskipun data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi masih kuat. Producer Price Index (PPI) September melonjak 1,3% secara bulanan, kenaikan terbesar dalam sekitar empat setengah tahun, sementara penjualan ritel meningkat 0,8%. Harga energi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan biaya produsen dan konsumsi.
Namun, data tersebut belum cukup membuat pasar yakin Federal Reserve akan langsung menaikkan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober. Pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 72% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, setelah sejumlah pejabat bank sentral memberikan sinyal bahwa kebijakan tidak perlu diperketat secara terburu-buru.
Tekanan terhadap dolar semakin besar setelah investor memburu obligasi pemerintah AS di tengah aksi jual saham teknologi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya pembiayaan proyek kecerdasan buatan. Permintaan terhadap Treasury mendorong harga obligasi naik dan yield tenor 10 tahun turun ke level terendah dalam sekitar tiga minggu.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada komentar Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok. Pernyataan terkait inflasi dan arah suku bunga akan menjadi katalis penting bagi dolar. Nada yang lebih hawkish berpotensi kembali mendorong DXY dan yield Treasury naik, sementara sikap yang lebih hati-hati dapat memperpanjang koreksi dolar.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id