
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (15/10), menghapus penguatan yang sebelumnya terbentuk setelah rilis data inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat. DXY turun dari level tertinggi Rabu yang mendekati 103,00, sekaligus menjadi posisi tertinggi dalam 18 bulan, menuju area di bawah 101,90 atau level terendah sejak 7 Oktober. Pelemahan tersebut terjadi seiring aksi jual besar-besaran saham perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang mendorong investor mengalihkan dana ke obligasi pemerintah AS atau Treasury.
Tekanan terhadap saham teknologi semakin meningkat akibat tingginya suku bunga AS yang memperbesar biaya pembiayaan pembangunan pusat data AI. Imbal hasil obligasi perusahaan pengembang infrastruktur AI dengan tingkat utang tinggi bahkan mencapai rekor, memperburuk kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan ekspansi sektor tersebut. Peralihan dana menuju Treasury mendorong penurunan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level terendah dalam tiga pekan. Pada saat yang sama, investor asing yang melepas kepemilikan saham teknologi AS dan membawa kembali dananya ke negara asal turut meningkatkan tekanan jual terhadap dolar.
Dari sisi ekonomi, harga produsen AS (PPI) September melonjak 1,3%, jauh melampaui perkiraan sebesar 0,5%, dengan kenaikan harga energi menyumbang sekitar separuh peningkatan tersebut. Penjualan ritel juga tumbuh 0,8%, tetapi kelompok penjualan ritel inti yang digunakan dalam perhitungan PDB hanya naik 0,1%. Kenaikan penjualan di SPBU menyumbang US$4,1 miliar dari total kenaikan US$5,7 miliar, mengindikasikan bahwa pertumbuhan penjualan ritel sebagian besar didorong kenaikan harga bahan bakar. Meski data inflasi produsen sempat mendorong DXY ke sekitar 102,25, penguatan tersebut dengan cepat menghilang akibat tekanan pasar obligasi dan saham.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada pernyataan pejabat Federal Reserve dan perkembangan ekspektasi kebijakan moneter AS. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober berada di sekitar 25%, sementara probabilitas kenaikan pada Desember mendekati 90% berdasarkan perkiraan pasar dalam laporan tersebut. Selain itu, data produksi industri AS September diperkirakan meningkat 0,4% setelah stagnan pada Agustus. Kombinasi perkembangan pasar saham, pergerakan yield Treasury, dan arah kebijakan The Fed diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan apakah dolar mampu kembali menguat atau melanjutkan pelemahannya.
Sumber: Newsmaker.id