
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat (16/10/2026), tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Minyak Brent kontrak Desember turun 0,4% menjadi US$105,52 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) kontrak November melemah 0,6% ke US$97,43 per barel pada pukul 08.11 waktu Singapura. Meski terkoreksi, Brent masih mencatatkan penguatan hampir 1% sepanjang pekan, didukung kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, khususnya jalur perdagangan strategis Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, tenggelam ketika sedang ditarik menuju pantai setelah terkena proyektil yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Peristiwa tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia. Meski demikian, lebih dari 40 kapal dilaporkan masih melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, menunjukkan aktivitas pelayaran belum sepenuhnya terhenti. Eurasia Group bahkan meningkatkan perkiraan probabilitas eskalasi konflik menjadi 65% dari sebelumnya 35%, mencerminkan meningkatnya risiko geopolitik yang dapat memengaruhi pasokan minyak global.
Di tengah kekhawatiran gangguan pasokan, negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) berkomitmen menyelesaikan pelepasan 100 juta barel minyak dari cadangan darurat yang masih tersisa dari program intervensi Maret. Kebijakan tersebut dilakukan setelah adanya dorongan dari pemerintah Amerika Serikat untuk meredam lonjakan harga energi domestik, terutama bensin dan diesel. Sementara itu, WTI mencatatkan kinerja relatif lebih kuat dibandingkan Brent sepanjang pekan karena penurunan biaya pengiriman minyak mentah dari Pantai Teluk AS menuju Rotterdam sekitar 12%. Penurunan biaya transportasi tersebut meningkatkan daya saing ekspor minyak Amerika Serikat dan mempersempit selisih harga antara kedua acuan minyak utama dunia.
Dukungan terhadap harga minyak juga datang dari laporan persediaan energi Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan signifikan. Data Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan stok minyak mentah AS berkurang 8,6 juta barel dalam sepekan, menjadi penurunan terbesar sejak Februari, dipengaruhi gangguan produksi akibat Badai Isaias, tingginya aktivitas kilang, dan penguatan ekspor. Persediaan produk distilat juga turun 2,5 juta barel hingga mencapai level terendah musiman terbaru. Ke depan, arah harga minyak diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz, serta efektivitas pelepasan cadangan minyak IEA dalam meredam tekanan pasokan global.
Pasar minyak menghadapi dua kekuatan yang berlawanan, yaitu risiko gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah dan tambahan suplai melalui cadangan darurat IEA. Penurunan persediaan minyak AS turut memperkuat fundamental harga, sehingga volatilitas berpotensi tetap tinggi menjelang penutupan pekan.