
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) kembali menguat mendekati level 102 pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah sebelumnya mengalami tekanan pada akhir pekan lalu. Penguatan ini terutama dipicu oleh melemahnya euro akibat meningkatnya ketegangan politik dan aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan di Prancis serta sejumlah negara Eropa lainnya. Kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati terhadap mata uang Eropa dan kembali melirik dolar AS sebagai salah satu aset yang dianggap aman di tengah ketidakpastian global.
Selain gejolak politik Eropa, meningkatnya konflik antara Rusia dan Ukraina turut memberikan tekanan terhadap euro. Ketegangan yang terus berlangsung menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi kawasan, terutama terkait keamanan energi dan aktivitas perdagangan. Karena euro memiliki bobot terbesar dalam perhitungan indeks dolar AS, pelemahan mata uang tersebut dapat mendorong DXY menguat, meskipun kondisi ekonomi Amerika Serikat sendiri belum menunjukkan perubahan besar.
Sementara itu, konflik Timur Tengah yang belum mereda juga menjadi perhatian pasar. Pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman masih berlangsung, sementara serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz terus meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dunia. Situasi ini mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman, sekaligus memunculkan kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat kembali memperburuk inflasi global.
Dari sisi kebijakan moneter, perhatian investor masih tertuju pada arah suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pada Jumat lalu, Ketua The Fed Kevin Warsh memilih tidak memberikan petunjuk mengenai keputusan suku bunga dalam pertemuan 27–28 Oktober. Warsh juga menyampaikan bahwa data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan belum mengubah penilaiannya terhadap kondisi ekonomi. Pernyataan tersebut sempat menekan dolar AS karena pasar mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 84% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Ke depan, pergerakan dolar AS diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, kondisi ekonomi Eropa, serta ekspektasi kebijakan The Fed. Dengan bank sentral AS telah memasuki periode blackout, yaitu masa ketika pejabat The Fed membatasi komunikasi publik mengenai kebijakan moneter menjelang rapat, investor akan lebih mengandalkan data ekonomi dan pergerakan pasar obligasi untuk membaca arah suku bunga. Jika ketidakpastian global terus meningkat, dolar AS berpotensi mempertahankan penguatannya di sekitar level 102. Kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap emas dan mata uang lainnya, meskipun meningkatnya permintaan aset aman juga berpeluang menopang harga emas di tengah risiko geopolitik.