
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah melemah pada perdagangan Senin (19/10) setelah reli tajam pada akhir pekan sebelumnya dinilai berlebihan secara teknikal. Brent turun sekitar 1,4% ke US$108,27 per barel, sementara WTI melemah 0,41% ke US$100,99 per barel. Tekanan juga datang dari tanda-tanda permintaan fisik yang mulai melemah, meski risiko geopolitik di Timur Tengah masih tinggi.
Kenaikan harga sebelumnya telah membawa minyak ke wilayah overbought, sehingga aksi ambil untung mulai muncul. Di sisi lain, arus minyak melalui Selat Hormuz masih berlangsung dan mulai meredakan sebagian kepanikan pasar. Aliran minyak dari kawasan Teluk disebut telah kembali mendekati sebagian besar level sebelum konflik, meski pengiriman produk olahan masih menghadapi kendala.
Pasar juga mencermati perkembangan ekspor minyak dari Irak yang mulai mendekati level sebelum perang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun keamanan di Selat Hormuz masih rapuh, sebagian pasokan tetap berhasil mengalir. Hal ini membuat pasar harus menyeimbangkan risiko gangguan pasokan dengan tanda-tanda pemulihan arus minyak.
Namun, risiko geopolitik belum hilang. Serangan Houthi terhadap pusat ekspor penting dan laporan serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk tetap menjadi ancaman terhadap distribusi energi. Konflik Rusia-Ukraina juga menambah ketidakpastian setelah serangan terhadap sektor energi Rusia berpotensi mengganggu pasokan produk olahan.
Dari sisi kebijakan AS, Presiden Donald Trump disebut melonggarkan tarif dan sanksi terhadap pengiriman energi Rusia sebagai bagian dari upaya menjaga proses pembicaraan damai dengan Ukraina. Langkah tersebut berpotensi menambah fleksibilitas pasokan dan menekan harga minyak, terutama jika lebih banyak minyak dan produk energi Rusia kembali masuk ke pasar.
Analisis Newsmaker: Pelemahan minyak saat ini lebih mencerminkan aksi ambil untung dan mulai pulihnya arus pasokan, bukan hilangnya risiko geopolitik. Brent masih berada di level tinggi karena pasar tetap memberikan premi risiko terhadap konflik Timur Tengah dan gangguan pengiriman. Ke depan, arah minyak akan sangat bergantung pada perkembangan Selat Hormuz: jika arus pasokan terus pulih, harga berpeluang terkoreksi, tetapi eskalasi serangan dapat kembali mendorong minyak naik.
Sumber : Newsmaker.id