
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Jumat (16/10) hingga menyentuh level terendah dalam dua pekan terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks Dolar AS (DXY) turun hingga 101,729, melanjutkan tekanan setelah pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan 28 Oktober.
Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral perlu menunggu lebih banyak kejelasan mengenai kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan berikutnya. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar tidak lagi terlalu agresif memperhitungkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap dolar AS.
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) yang dibiayai melalui utang turut mengubah aliran dana di pasar global. Investor meningkatkan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS sebagai aset yang lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian pada saham teknologi. Kenaikan permintaan Treasury kemudian menjaga yield tetap dekat dengan level terendah dalam beberapa pekan dan turut mengurangi daya tarik dolar.
Pergerakan tersebut memberikan ruang bagi mata uang utama lainnya untuk menguat. Euro naik hingga US$1,1249, mencapai level tertinggi dalam satu pekan, sementara poundsterling menyentuh US$1,3324, level tertinggi dalam tiga pekan. Penguatan kedua mata uang tersebut menunjukkan tekanan terhadap dolar semakin luas seiring investor menyesuaikan kembali posisi mereka terhadap prospek kebijakan The Fed.
Meski demikian, pelemahan dolar belum tentu menjadi tren yang berkelanjutan. Inflasi AS yang masih tinggi tetap menjadi risiko bagi pasar karena dapat membuat The Fed kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila tekanan harga tidak mereda. Karena itu, perkembangan yield Treasury dan data ekonomi berikutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah pelemahan dolar hanya bersifat sementara atau berlanjut.
Analisis Newsmaker: Dolar AS saat ini berada di bawah tekanan akibat kombinasi turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober dan meningkatnya permintaan Treasury sebagai aset safe haven. Jika yield terus turun dan pasar semakin yakin The Fed menunda kenaikan suku bunga, dolar berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, data ekonomi yang kembali menunjukkan inflasi kuat dapat membalikkan ekspektasi tersebut dan membuka ruang bagi dolar untuk kembali menguat.
Sumber: Newsmaker.id