
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Australia kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut. Pasangan mata uang AUD/USD bergerak di sekitar level 0,6970 pada sesi perdagangan Asia, menyusul keputusan bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), yang mempertahankan suku bunga acuannya. PBOC menetapkan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun tetap sebesar 3,00%, sementara tenor lima tahun dipertahankan pada 3,50%. Keputusan tersebut membuat dolar Australia kesulitan melanjutkan penguatan karena pasar masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi China.
Keputusan PBOC menjadi perhatian karena China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Australia, terutama dalam perdagangan komoditas seperti bijih besi dan batu bara. Suku bunga pinjaman yang tidak berubah menunjukkan bahwa bank sentral China belum memberikan tambahan stimulus melalui pemangkasan LPR. Kondisi ini membuat investor berhati-hati dalam menilai prospek permintaan komoditas dari China. Jika pertumbuhan ekonomi China melambat, permintaan terhadap produk ekspor Australia berpotensi berkurang sehingga memberikan tekanan terhadap dolar Australia.
Meski demikian, pelemahan dolar Australia masih mendapat penahan dari pernyataan pejabat Reserve Bank of Australia (RBA) yang cenderung mendukung kebijakan moneter ketat. Asisten Gubernur RBA, Christopher Kent, mempertanyakan apakah suku bunga Australia saat ini sebesar 4,6% sudah cukup tinggi untuk mengendalikan inflasi. Menurutnya, kenaikan tingkat suku bunga netral dapat membuat kebijakan yang berlaku tidak seketat perkiraan sebelumnya. Pernyataan tersebut membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi Australia belum menunjukkan penurunan yang memadai.
Di sisi lain, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan AUD/USD. Ketua The Fed, Kevin Warsh, sebelumnya menyampaikan pandangan positif terhadap ketahanan ekonomi AS, tetapi tidak memberikan kepastian mengenai waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, sementara peluang kenaikan bunga pada Desember diperkirakan mencapai 82,8%. Ekspektasi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan membatasi penguatan mata uang Australia.
Ke depan, arah AUD/USD akan bergantung pada perkembangan ekonomi China, kebijakan suku bunga RBA, serta keputusan The Fed. Investor juga menantikan pidato Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser pekan ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Australia. Secara teknikal, level 0,7000 menjadi batas psikologis yang perlu diperhatikan. Jika AUD/USD mampu kembali menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan dapat terbuka. Sebaliknya, apabila dolar AS terus menguat dan sentimen terhadap ekonomi China melemah, dolar Australia berisiko kembali mengalami tekanan. Kini perhatian pasar tertuju pada apakah sikap tegas RBA mampu mengangkat dolar Australia di tengah ketidakpastian ekonomi China dan kebijakan The Fed.