
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Selasa (20/10), dengan Brent naik 0,50% ke US$110,10 per barel dan kembali berada di dekat level tertinggi dalam lima bulan. Sementara itu, WTI untuk kontrak November naik 0,24% ke US$103,91 per barel. Kenaikan harga terutama didorong oleh premi risiko geopolitik setelah meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal di kawasan Teluk.
Serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah fasilitas energi, bandara, dan target militer di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. Klaim serangan tersebut belum dikonfirmasi secara independen, tetapi laporan mengenai sedikitnya 18 kapal yang diserang dalam dua pekan terakhir membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan jalur distribusi energi.
Risiko pasokan semakin menjadi perhatian karena kawasan Teluk merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak global. Selama arus minyak masih berjalan tanpa gangguan besar, premi risiko berpotensi perlahan berkurang. Namun, sejauh ini belum terlihat tanda yang cukup kuat bahwa risiko tersebut telah mereda.
Dari Amerika Serikat, pasar juga menantikan data persediaan minyak mentah yang diperkirakan mengalami penurunan. Jika penurunan stok terkonfirmasi, kondisi tersebut dapat memberikan dukungan tambahan bagi harga minyak karena menunjukkan pasokan domestik AS yang lebih ketat.
Sementara itu, kebijakan AS terhadap energi Rusia masih menjadi perhatian. Presiden Donald Trump sebelumnya memberikan kelonggaran terhadap sejumlah sanksi dan tarif terkait Rusia, tetapi keputusan final masih dalam evaluasi. Tambahan pasokan minyak atau diesel Rusia berpotensi meredakan tekanan harga, meskipun pasar saat ini tampaknya lebih fokus pada risiko kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Analisis Newsmaker: Fundamental minyak masih cenderung bullish karena premi risiko geopolitik tetap tinggi. Selama serangan terhadap fasilitas energi dan kapal terus berlangsung, harga minyak berpeluang bertahan di level tinggi. Namun, jika arus pasokan dari kawasan Teluk tetap lancar dan pasokan Rusia kembali meningkat, premi risiko dapat berkurang dan membuka ruang bagi koreksi harga. (asd)
Sumber: Newsmaker.id