
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Euro kembali menembus US$1,12 pada perdagangan Senin (2/11) setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam 17 bulan. Penguatan euro terjadi di tengah pelemahan harga minyak dan ketidakpastian menjelang pemilu paruh waktu AS pada Selasa yang menekan dolar AS.
Penurunan harga minyak dipicu laporan bahwa Presiden AS Donald Trump bersedia memberikan lebih banyak waktu bagi upaya diplomasi dengan Iran sebelum mempertimbangkan serangan militer baru setelah pemilu. Perkembangan tersebut membantu meredakan sebagian tekanan terhadap dolar dan memberikan ruang bagi euro untuk pulih.
Namun, penguatan euro masih dibayangi persoalan fiskal Prancis. Fitch Ratings sebelumnya mengubah prospek Prancis menjadi negatif dalam peninjauan yang dilakukan secara tidak terjadwal. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi pemulihan mata uang tunggal Eropa.
Sementara itu, ECB mempertahankan suku bunga pada Kamis dan belum memberikan panduan kuat mengenai arah kebijakan berikutnya. Presiden ECB Christine Lagarde mengonfirmasi bahwa opsi kenaikan suku bunga sempat dibahas, tetapi seluruh pembuat kebijakan sepakat mempertahankan biaya pinjaman.
ECB menilai kondisi keuangan yang semakin ketat turut membantu meredam tekanan inflasi. Karena itu, pasar kini mencermati bagaimana bank sentral akan menyeimbangkan risiko inflasi dengan kondisi pertumbuhan ekonomi kawasan euro.
Pergerakan euro selanjutnya akan sangat dipengaruhi arah dolar AS, perkembangan harga minyak, serta hasil pemilu paruh waktu AS. Jika ketidakpastian politik AS meningkat dan dolar kembali tertekan, euro berpeluang mempertahankan pemulihannya dari level terendah 17 bulan. (arl)
Sumber: Newsmaker.id