
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Pasangan AUD/USD masih bertahan dekat level tertinggi bulanan pada perdagangan Jumat (23/10) sesi Asia setelah sebelumnya rebound dari bawah 0,7000. Meski pergerakannya cenderung terbatas, dolar Australia tetap berpeluang mencatat penguatan mingguan yang solid berkat dukungan fundamental dari ekspektasi kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA).
Sentimen positif terhadap AUD diperkuat pernyataan hawkish sejumlah pejabat RBA. Assistant Governor Christopher Kent menyebut terdapat indikasi bahwa suku bunga netral meningkat di Australia maupun secara global. Sementara itu, Deputy Governor Andrew Hauser memperingatkan bahwa inflasi trimmed mean kuartal III berpotensi lebih tinggi dari perkiraan, sehingga peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka menjelang pertemuan RBA pada 3 November.
Dukungan lainnya datang dari China, mitra dagang utama Australia. Ekonomi China tumbuh 4,5% secara tahunan pada kuartal III, meningkat dari 4,3% pada kuartal sebelumnya dan lebih baik dari perkiraan. Kinerja tersebut memberikan sentimen positif bagi dolar Australia karena prospek ekonomi China berpengaruh terhadap permintaan komoditas dan perdagangan Australia.
Namun, penguatan AUD/USD masih tertahan oleh pemulihan dolar AS dari level terendah tiga pekan. Pasar juga masih memperkirakan sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Pelaku pasar kini memilih menunggu sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Perhatian utama tertuju pada hasil pertemuan FOMC dua hari yang akan berakhir pekan depan, disusul rilis data GDP AS kuartal III dan PCE Price Index yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga serta arah dolar AS.
Analisis Newsmaker: AUD/USD masih mendapat dukungan dari sikap hawkish RBA dan membaiknya pertumbuhan ekonomi China, tetapi ruang penguatan pasangan ini tetap terbatas selama dolar AS mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga dan risiko geopolitik. Arah berikutnya akan sangat bergantung pada keputusan The Fed serta data ekonomi AS pekan depan. (srh)
Sumber: Newsmaker.id