
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Pasangan AUD/USD terkoreksi setelah mencatat level tertinggi bulanan, mengakhiri penguatan selama empat sesi berturut-turut pada perdagangan Kamis (22/10). Meski demikian, dolar Australia masih bertahan di atas level psikologis 0,7000, didukung pelemahan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Reserve Bank of Australia (RBA).
Sentimen pasar sempat tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko dan memberikan tekanan terhadap dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen global. Namun, tekanan tersebut masih terbatas karena prospek kebijakan RBA tetap menjadi penopang.
RBA Assistant Governor Christopher Kent menyebut terdapat indikasi bahwa tingkat suku bunga netral meningkat di Australia maupun secara global. Sementara itu, Deputy Governor Andrew Hauser memperingatkan bahwa inflasi trimmed mean kuartal ketiga berpotensi lebih tinggi dari perkiraan, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga tetap terbuka menjelang pertemuan RBA pada 3 November.
Dukungan terhadap AUD juga datang dari China, mitra dagang utama Australia. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan meningkatkan optimisme terhadap prospek permintaan komoditas dan memberikan sentimen positif bagi dolar Australia.
Di sisi lain, dolar AS melanjutkan pelemahan dari level tertinggi 18 bulan dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Yield obligasi AS juga terus terkoreksi dari level tinggi sebelumnya setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Analisis Newsmaker: AUD/USD masih memiliki dukungan fundamental dari sikap hawkish RBA, penguatan ekonomi China, dan pelemahan dolar AS. Namun, sentimen risiko global dan ketidakpastian geopolitik dapat membatasi penguatan AUD. Fokus berikutnya tertuju pada pertemuan The Fed dan data inflasi Australia yang akan menentukan arah kebijakan kedua bank sentral. (srh)
Sumber: Newsmaker.id