
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), setelah serangkaian serangan mematikan di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi Timur Tengah. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember melesat 4% dan ditutup pada US$113,17 per barel, mencatat kenaikan harian terbesar dalam sekitar dua pekan. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember menguat 2,4% dan berakhir di US$99,47 per barel. Penguatan tersebut dipicu serangan drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco yang menewaskan dua orang, meskipun tidak mengganggu kegiatan operasional. Serangan lain di Bandara Internasional King Fahd, Dammam, juga menimbulkan korban, sementara kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang pelabuhan Yanbu dalam 48 jam terakhir. Situasi keamanan yang memburuk mendorong Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel kedutaan dan anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi.
Ketegangan geopolitik tersebut semakin memperbesar ketidakpastian pasar energi setelah konflik Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Harga Brent dilaporkan telah melonjak lebih dari 80% sepanjang tahun akibat gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia. Namun, ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz belakangan mulai pulih mendekati tingkat sebelum konflik, termasuk pengiriman dari Kuwait yang tetap berjalan melalui pengaturan logistik alternatif dan pemanfaatan armada tanker strategis. Meski demikian, distribusi produk olahan seperti solar dan bahan bakar pesawat masih mengalami hambatan. Risiko keamanan juga tetap tinggi setelah Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang empat kapal tanker yang dianggap melanggar ketentuan pelayaran di kawasan Teluk Persia. Di sisi lain, laporan mengenai kemungkinan serangan lanjutan AS dan Israel terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meluas.
Tekanan pasokan energi global semakin kompleks akibat meningkatnya serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia, yang turut membatasi ketersediaan produk bahan bakar, terutama diesel. Sejumlah pemerintah mulai memanfaatkan cadangan energi untuk mengurangi tekanan pasar, sementara pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong langkah penurunan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu, termasuk melalui kesepakatan pasokan diesel dengan Rusia. Namun, kebijakan tersebut menghadapi penolakan dari sejumlah anggota parlemen AS karena dikhawatirkan dapat meningkatkan pendapatan Moskow di tengah konflik Ukraina. Rusia dilaporkan mulai menjalankan kesepakatan tersebut dengan menyiapkan pengiriman sekitar 40.000 metrik ton diesel atau setara 300.000 barel menuju Amerika Serikat. Di tengah berbagai upaya menjaga pasokan, pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian akibat risiko serangan terhadap infrastruktur energi, ancaman gangguan jalur pelayaran, serta meningkatnya biaya distribusi. Kondisi ini membuat harga minyak berpotensi tetap bergejolak meskipun volume ekspor mentah dari Teluk Persia mulai menunjukkan pemulihan.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id