
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melemah terhadap yen Jepang pada perdagangan Kamis (22/10), seiring meningkatnya permintaan terhadap mata uang safe haven akibat aksi jual saham global dan memburuknya sentimen terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Yen Jepang menguat 0,8% ke level 156,86 per dolar AS, sekaligus menyentuh posisi terkuat sejak akhir September. Mata uang Jepang tersebut juga mencatat kenaikan 0,9% terhadap euro, menjadikannya salah satu mata uang utama dengan kinerja paling kuat pada perdagangan tersebut. Pelemahan dolar terhadap yen terjadi ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menyusul laporan keuangan perusahaan teknologi dan AI yang mengecewakan. Ketegangan geopolitik Timur Tengah yang kembali meningkat dan mendorong kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk sentimen pasar, sementara lonjakan harga obligasi pemerintah AS menekan imbal hasil Treasury dan mengurangi dukungan terhadap greenback.
Tekanan terhadap dolar AS semakin terasa setelah kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi AI mendorong penurunan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat. Strategis valuta asing OCBC, Sim Moh Siong, menilai risiko yang berkaitan dengan industri AI lebih banyak terkonsentrasi di AS, sehingga meningkatnya kekhawatiran terhadap sektor tersebut turut menekan yield Treasury dan pasangan USD/JPY. Di tengah perubahan sentimen tersebut, franc Swiss ikut menguat sekitar 0,4% terhadap dolar AS, sementara euro cenderung melemah akibat meningkatnya tekanan utang pemerintah Prancis dan tingginya harga energi. Strategis Bank of America, Alex Cohen, menyebut pergerakan pasar valuta asing saat ini mencerminkan pola penghindaran risiko yang umum terjadi, ketika yen dan franc Swiss mendapatkan dukungan, sedangkan euro menghadapi tekanan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa permintaan terhadap aset aman tidak selalu menguntungkan dolar AS, terutama ketika sumber utama kekhawatiran pasar berasal dari prospek pertumbuhan ekonomi dan sektor teknologi Amerika Serikat sendiri.
Sementara itu, pasar derivatif mulai menunjukkan meningkatnya optimisme terhadap penguatan yen dalam jangka pendek, tercermin dari perubahan posisi kontrak opsi USD/JPY bertenor satu bulan. Pergeseran tersebut mengindikasikan bahwa sebagian investor mulai memperhitungkan peluang apresiasi lanjutan mata uang Jepang, meskipun masih terdapat perdebatan mengenai apakah penguatan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penghindaran risiko atau arus modal domestik Jepang. Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli yen belum tentu berkembang menjadi tren penguatan yang berkelanjutan. Kepala Strategi Valuta Asing Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Hirofumi Suzuki, menilai pertemuan bank sentral pekan depan serta pemilu paruh waktu AS pada November dapat kembali mengubah arah pasar. Investor kini mencermati pergerakan yield Treasury, perkembangan saham teknologi, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan moneter Federal Reserve dan Bank of Japan untuk menentukan prospek dolar AS terhadap yen dalam perdagangan berikutnya.
Kesimpulan Newsmaker
Pelemahan dolar AS terhadap yen Jepang menunjukkan bahwa pergeseran sentimen global menuju aset aman tidak selalu memberikan keuntungan bagi greenback. Ketika kekhawatiran pasar berpusat pada sektor AI Amerika Serikat, penurunan yield Treasury justru dapat memperkuat yen dan menekan pasangan USD/JPY.
Dalam jangka pendek, penguatan yen masih berpotensi berlanjut apabila aksi jual saham teknologi semakin dalam dan yield obligasi AS terus menurun. Namun, prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve tetap menjadi faktor penting yang dapat membatasi pelemahan dolar.
Dampak terhadap dolar AS: Jika USD/JPY bergerak konsisten di bawah 156,50, tekanan berpotensi meluas menuju area psikologis 156,00. Sebaliknya, apabila dolar kembali menguat dan pasangan mata uang tersebut menembus 157,50, peluang pemulihan menuju 158,00 dapat terbuka. Level tersebut merupakan area pemantauan teknikal, bukan kepastian target harga.
Fokus utama pasar: Investor akan mencermati keputusan Federal Reserve pada 27–28 Oktober, pergerakan yield Treasury, dan perkembangan sektor AI sebagai faktor yang dapat menentukan apakah dolar AS melanjutkan pelemahan atau kembali memperoleh momentum penguatan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id