
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan jual tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya pengeluaran perusahaan di sektor kecerdasan buatan (AI) serta lonjakan harga minyak akibat memanasnya ketegangan geopolitik. Indeks Nasdaq Composite merosot 2,6% ke level 26.008,86, mencatatkan penurunan harian terdalam sejak Juni. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,21% menjadi 7.663,43, membukukan kinerja harian terburuk sejak Juli. Berbeda dengan kedua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average berhasil bertahan di zona positif dengan kenaikan tipis 11,89 poin atau 0,02% ke posisi 52.867,98.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang kembali menghadapi aksi jual di tengah meningkatnya keraguan terhadap keberlanjutan belanja infrastruktur AI. Saham Meta Platforms anjlok hampir 7%, meskipun perusahaan berhasil melampaui ekspektasi pendapatan dan memberikan proyeksi bisnis yang optimistis. Pelemahan juga melanda sejumlah perusahaan semikonduktor, dengan Advanced Micro Devices (AMD) merosot lebih dari 8%, Micron Technology turun 6%, dan Nvidia kehilangan sekitar 4%. Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil keuangan yang positif belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor terhadap tingginya kebutuhan modal dan potensi pengembalian investasi di sektor AI.
Saham CoreWeave, salah satu perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan khusus AI atau neocloud, turut mengalami tekanan dengan penurunan lebih dari 10%. Kekhawatiran terhadap kondisi pembiayaan perusahaan masih membayangi pasar, tercermin dari tingginya imbal hasil obligasi dan premi credit default swap (CDS) CoreWeave yang mengindikasikan meningkatnya persepsi risiko kredit. Di sisi lain, CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan bahwa permintaan layanan neocloud masih sangat tinggi, tetapi keterbatasan modal menjadi hambatan utama bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk mempercepat ekspansi. Pernyataan ini semakin menyoroti tantangan pembiayaan yang dihadapi industri AI meskipun kebutuhan komputasi terus berkembang.
Pelemahan Wall Street juga berlangsung ketika harga minyak dunia melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan mempertahankan ketidakpastian kebijakan suku bunga AS. Kombinasi tingginya biaya energi, kebutuhan pendanaan sektor teknologi, dan kekhawatiran terhadap profitabilitas investasi AI mendorong investor semakin berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko. Ke depan, perhatian pasar diperkirakan tetap tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi, perkembangan harga minyak, serta arah kebijakan Federal Reserve. Apabila tekanan inflasi dan kekhawatiran terhadap pembiayaan AI terus meningkat, pasar saham AS berisiko menghadapi volatilitas lanjutan, khususnya pada sektor teknologi yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama penguatan Wall Street.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id