
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Jumat (23/10/2026) sesi Asia, meskipun masih bergerak di kisaran level 101. Penguatan terbatas tersebut terjadi setelah dolar mengalami tekanan akibat meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah AS dan yen Jepang. Pelaku pasar mulai mempertimbangkan kembali prospek kebijakan moneter Federal Reserve di tengah lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Meski dolar mulai menunjukkan tanda pemulihan, sentimen pasar masih cenderung berhati-hati menjelang sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak mentah Brent hingga kisaran US$114 per barel menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendukung pemulihan dolar. Lonjakan harga energi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi Amerika Serikat. Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang sehingga dapat menghambat proses penurunan inflasi. Kondisi tersebut mendorong investor mencermati kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk menjaga stabilitas harga.
Di sisi lain, penguatan dolar masih dibatasi oleh kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya tekanan di pasar saham teknologi. Aksi jual saham perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) telah mendorong sebagian investor mengalihkan dana menuju obligasi pemerintah AS. Meningkatnya permintaan obligasi dapat menekan imbal hasil Treasury, sehingga mengurangi daya tarik dolar terhadap sejumlah mata uang utama. Situasi tersebut mencerminkan dilema pasar antara meningkatnya risiko inflasi energi dan kekhawatiran bahwa aktivitas ekonomi AS dapat kehilangan momentum pertumbuhan.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Keputusan suku bunga dan pernyataan pejabat bank sentral akan menjadi petunjuk penting mengenai prospek kebijakan moneter Amerika Serikat hingga akhir tahun. Apabila The Fed memberikan sinyal mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, dolar berpotensi melanjutkan pemulihan. Sebaliknya, apabila kekhawatiran perlambatan ekonomi semakin mendominasi dan mendorong ekspektasi pelonggaran moneter, penguatan dolar berisiko kehilangan momentum. Dengan kondisi tersebut, pergerakan DXY diperkirakan tetap berfluktuasi seiring perubahan sentimen inflasi, pasar obligasi, dan perkembangan geopolitik global.(CP)