
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (23/10/2026) sesi Asia, setelah melonjak sekitar 4% pada sesi sebelumnya akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di Timur Tengah. Minyak Brent berjangka turun tipis 0,2% atau 21 sen menjadi US$112,96 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,3% atau 27 sen ke level US$98,12 per barel. Meski terkoreksi, Brent masih bertahan di dekat level tertinggi lima bulan terakhir, mencerminkan besarnya risiko geopolitik yang membayangi pasar energi global.
Ketegangan meningkat setelah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, salah satu eksportir minyak terbesar dunia, memicu kekhawatiran akan terganggunya aktivitas produksi dan distribusi energi. Saudi Aramco dilaporkan memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran pada Kamis, ketika bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi semakin intensif. Konflik tersebut turut meningkatkan risiko keamanan jalur pelayaran Bab el-Mandeb, salah satu titik penting perdagangan internasional yang menghubungkan Laut Merah dengan jalur menuju Terusan Suez.
Gangguan pasokan juga muncul dari Libya, setelah katup pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya ditutup. Penutupan tersebut menyebabkan penurunan produksi di kedua ladang, sehingga menambah kekhawatiran terhadap ketersediaan minyak global. Kombinasi gangguan produksi di Afrika Utara dan meningkatnya risiko distribusi di Timur Tengah memberikan dukungan bagi harga minyak, meskipun pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian posisi setelah kenaikan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, perkembangan diplomasi Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian investor. Rusia menyatakan kesiapannya melanjutkan pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat pada November, setelah Presiden Vladimir Putin bertemu utusan AS Steve Witkoff di St. Petersburg. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy juga berharap perundingan dapat berlangsung pada awal November. Kemajuan negosiasi berpotensi memengaruhi prospek pasokan energi Rusia, mengingat sanksi internasional selama ini telah membatasi akses minyak Rusia ke pasar global.
Ke depan, harga Brent diperkirakan masih bergerak volatil seiring perkembangan konflik Timur Tengah, gangguan produksi Libya, dan prospek perundingan Rusia-Ukraina. Secara mingguan, Brent berada di jalur kenaikan untuk pekan ketiga berturut-turut, sementara WTI berpotensi mengakh.