
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) melemah ke sekitar 101,71 pada perdagangan Selasa (20/10), turun sekitar 0,3% dan berada di dekat level terendah dalam beberapa pekan. Tekanan terhadap greenback terjadi setelah harga minyak berbalik turun di tengah munculnya harapan bahwa negosiasi AS-Iran dapat menghasilkan jalan keluar bagi konflik dan meredakan tekanan inflasi. Data pasar menunjukkan DXY bergerak dalam kisaran 101,51–101,97 sepanjang sesi.
Harga minyak Brent turut melemah setelah sebelumnya menguat akibat meningkatnya risiko geopolitik. Laporan mengenai proposal kompromi yang melibatkan Qatar dan Pakistan antara Washington dan Teheran sempat mendorong optimisme bahwa pasokan energi global dapat kembali lebih lancar. Namun, perkembangan negosiasi masih belum pasti sehingga pasar tetap berhati-hati.
Di Jepang, USD/JPY berada di sekitar 158,20, menunjukkan penguatan yen setelah permintaan pada lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun mencapai rekor. Tingginya permintaan obligasi mendorong yield Jepang turun dan memberikan dukungan terhadap mata uang yen.
Euro juga menguat ke sekitar US$1,1237 setelah sebelumnya tertekan oleh ketidakpastian politik Prancis. Sementara itu, poundsterling naik ke sekitar US$1,3383, didukung data pasar tenaga kerja Inggris yang meningkatkan spekulasi bahwa Bank of England masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Pergerakan dolar juga dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang kurang menggembirakan. Pending home sales September turun tajam, menunjukkan tingginya suku bunga hipotek masih membebani permintaan perumahan. Kondisi tersebut dapat memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Analisis Newsmaker: Dolar AS saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi pelemahan harga minyak, data ekonomi yang kurang kuat, dan ekspektasi The Fed yang cenderung menahan suku bunga. Jika negosiasi AS-Iran benar-benar menghasilkan kemajuan, penurunan premi risiko energi dapat semakin mengurangi dukungan terhadap dolar. Namun, inflasi dan arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor utama yang menentukan apakah pelemahan DXY dapat berlanjut.
Sumber : Newsmaker.id