
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia berbalik melemah pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Penurunan terjadi ketika pelaku pasar mencermati perkembangan diplomasi antara Iran dan Pakistan yang berpotensi membuka kembali jalur perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar energi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah fasilitas strategis Arab Saudi serta laporan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk.
Minyak mentah Brent ditutup turun 76 sen atau 0,69% menjadi US$108,79 per barel, setelah sebelumnya sempat mencapai US$111,99, level tertinggi dalam lima bulan. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak November yang berakhir pada Selasa melemah US$1,87 atau 1,8% menjadi US$101,79 per barel, jauh di bawah level tertinggi sesi perdagangan sebesar US$110,48. Adapun kontrak WTI Desember yang lebih aktif diperdagangkan turun 72 sen menjadi US$97,82 per barel.
Sentimen pasar dipengaruhi pertemuan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, di Teheran. Berdasarkan laporan media Iran, Nournews, kedua pihak membahas perkembangan kawasan serta upaya mediasi untuk meredakan konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Pakistan sebelumnya berperan dalam memfasilitasi kesepakatan perdamaian sementara pada Juni, meskipun kesepakatan tersebut tidak bertahan lama setelah pertempuran kembali pecah beberapa pekan kemudian.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, ancaman terhadap pasokan energi regional masih tinggi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas energi, bandara, dan target militer Arab Saudi pada Senin. Sasaran yang disebutkan mencakup fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta Bandara Abha. Rangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan kelancaran distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Pergerakan minyak dalam waktu dekat diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan diplomasi dan risiko gangguan pasokan. Kemajuan perundingan AS-Iran berpotensi meredakan premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak. Sebaliknya, eskalasi serangan terhadap fasilitas energi maupun jalur pelayaran dapat kembali memicu tekanan kenaikan harga. Kondisi ini juga menjadi perhatian pasar keuangan global karena perubahan harga minyak berpotensi memengaruhi prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id