
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak relatif stabil terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Rabu (21/10/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang kembali mendorong permintaan aset aman. Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 101,70 setelah melemah hampir 0,3% pada perdagangan sebelumnya dan sempat menyentuh 101,50, level terendah sejak 1 Oktober. Konflik antara AS-Israel dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Harga minyak dunia bahkan melonjak lebih dari US$2 per barel setelah Iran mengindikasikan kecilnya peluang kemajuan diplomasi dengan Washington, sehingga memperkuat kekhawatiran inflasi dan memberikan dukungan terhadap dolar AS.
Di pasar valuta asing, euro melemah 0,1% menjadi US$1,122 akibat meningkatnya ketidakpastian politik dan memburuknya kondisi fiskal Prancis, yang mendorong biaya pinjaman pemerintah mendekati level tertinggi dalam 24 tahun. Sebaliknya, poundsterling menguat 0,1% menjadi US$1,338 setelah inflasi Inggris melampaui ekspektasi, memperkuat peluang kenaikan suku bunga Bank of England pada November. Yen Jepang turut menguat ke kisaran 157,96 per dolar AS, didukung sinyal Bank of Japan mengenai kemungkinan pengetatan moneter lanjutan. Sementara itu, dolar Australia naik 0,4% menjadi US$0,703, menyentuh level tertinggi tiga pekan setelah pejabat bank sentral Australia memperingatkan memburuknya prospek inflasi.
Meski mendapatkan dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman, penguatan dolar AS masih tertahan oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi dan prospek investasi kecerdasan buatan (AI). Investor kini mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi besar, perkembangan konflik Timur Tengah, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Di kawasan Asia, rupiah Indonesia turut melemah tipis 0,1% setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya untuk keempat kalinya secara berturut-turut, tetapi menaikkan suku bunga Deposit Facility. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan dolar masih dipengaruhi tarik-menarik antara meningkatnya risiko geopolitik, tekanan inflasi, dan penurunan yield Treasury AS.
Point of View Newsmaker
Pergerakan dolar AS saat ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah menjadi penopang utama greenback, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan. Lonjakan harga minyak berpotensi mempertahankan inflasi AS pada level tinggi dan memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga ketat The Fed. Namun, penurunan yield Treasury justru mengurangi daya tarik dolar dari sisi imbal hasil. Dua faktor yang saling berlawanan ini membuat DXY cenderung bergerak dalam fase konsolidasi.
Dari sisi teknikal, area 101,50 menjadi support penting bagi indeks dolar AS. Jika DXY mampu menembus 102,00, peluang penguatan menuju 102,30 berpotensi terbuka. Sebaliknya, pelemahan di bawah 101,50 dapat mendorong indeks kembali menguji area 101,00. Level tersebut merupakan skenario teknikal yang masih memerlukan konfirmasi pergerakan harga.
Kesimpulan Newsmaker: Dolar AS masih memiliki peluang mendapatkan dukungan dari ketegangan geopolitik dan tingginya harga energi. Namun, arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada perubahan yield obligasi AS dan ekspektasi kebijakan The Fed. Bagi emas, pelemahan dolar dan yield dapat membuka peluang pemulihan, sedangkan bagi rupiah, meningkatnya permintaan dolar sebagai aset aman berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap nilai tukar domestik.(yds)
Sumber: Newsmaker.id