
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026), dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$100 per barel, level tertinggi sejak 17 September. Penguatan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global menyusul serangkaian serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Dalam perdagangan Rabu, WTI tercatat naik hingga US$99,95 per barel, sementara minyak Brent menguat mencapai US$110,85 per barel. Ketegangan geopolitik yang belum mereda membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Situasi semakin memanas setelah badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal terkena serangan di dekat perairan Oman. Sementara itu, media pemerintah Iran, IRIB News, menyebut sebuah kapal tanker berukuran besar menghantam ranjau laut di Selat Hormuz. Laporan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan jalur pelayaran yang menjadi salah satu pusat perdagangan energi dunia. Iran dilaporkan meningkatkan aktivitas serangannya dalam beberapa pekan terakhir, termasuk insiden yang menyasar bagian mesin kapal. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar biaya pengiriman dan asuransi, meskipun belum seluruh laporan insiden dapat diverifikasi secara independen.
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, aktivitas ekspor minyak Timur Tengah ternyata masih menunjukkan ketahanan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai mendekati kondisi sebelum perang. Data pemantauan Kpler dan Vortexa juga menunjukkan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah meningkat sejak musim panas, dibantu penggunaan jalur alternatif dan pemindahan muatan antarkapal. Namun, stabilitas tersebut masih rentan terhadap serangan lanjutan. Tingginya risiko pelayaran membuat pasar tetap berhati-hati karena gangguan pada satu jalur distribusi strategis dapat meningkatkan biaya logistik dan memengaruhi harga minyak global.
Selain ketegangan geopolitik, harga minyak turut mendapatkan dukungan dari ekspektasi penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun sekitar 4,9 juta barel pada pekan sebelumnya, mengindikasikan berkurangnya pasokan dalam negeri. Investor kini mencermati laporan persediaan resmi pemerintah AS serta perkembangan keamanan Selat Hormuz untuk menentukan arah harga berikutnya. Jika ancaman gangguan pengiriman terus meningkat dan persediaan minyak AS kembali menyusut, harga minyak berpotensi mempertahankan penguatan. Sebaliknya, kelancaran ekspor Timur Tengah dapat membatasi kenaikan lebih lanjut.
Point of View Newsmaker
Pergerakan harga minyak dunia saat ini memperlihatkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi penggerak utama pasar, meskipun pasokan fisik belum mengalami gangguan sebesar yang dikhawatirkan investor. Serangan terhadap kapal tanker meningkatkan premi risiko, sementara pemulihan ekspor dari Timur Tengah menjadi faktor penyeimbang yang dapat menahan lonjakan harga lebih tinggi.
Dari sisi teknikal, WTI menghadapi area psikologis US$100 per barel. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan menuju US$102–105 dapat terbuka. Sebaliknya, apabila ketegangan mereda dan aliran minyak tetap stabil, harga berpotensi terkoreksi menuju area US$97–95. Kisaran tersebut merupakan skenario analisis, bukan kepastian pergerakan harga.
Kesimpulan: Minyak masih memiliki kecenderungan bullish dalam jangka pendek, tetapi pemulihan ekspor Timur Tengah dapat membatasi kenaikan. Jika harga minyak bertahan tinggi, risiko inflasi global berpotensi meningkat dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed. Kondisi ini dapat mendukung dolar AS sekaligus memberikan tekanan terhadap emas dan mata uang negara pengimpor energi, termasuk rupiah.(yds)
Sumber: newsmaker.id